MINE

Stres, Berbahayakah?

“Ah, dasar orang stres,” ungkapan ini seringkali terlontar dari seseorang ketika bersua, dengan perilaku manusia yang dianggap keluar dari pakem sosial. Stigma dan pengertian ini sudah jamak diketahui masyarakat umum.  Mereka mengartikan stres sebagai reaksi dari gejala, perbuatan yang dianggap tidak wajar alias nyeleneh di lakukan oleh seseorang. Benarkah demikian?

Menurut Dr. Zainuddin SK, M.Psi yang dimaksud stres segala sesuatu yang sifatnya membebani, baik fisik maupun mental. Lebih lanjut dia  menjelaskan, tanpa stress, seseorang tidak akan aktif, sehingga eksistensi stres sangat penting dalam hidup manusia.

Mengapa? “Karena dengannya, (stres –red.) seseorang bisa meraih apa yang diinginkan dan diimpikannya. Stres adalah pendorong manusia untuk proaktif terhadap suatu tantangan,”kata Zainuddin, sapaan akrabnya. Jadi, lanjutnya, setiap orang, selama masih hidup, pasti merasakan stres di mana dan kapan pun.

Lebih jauh dosen di Universitas Persada Indonesia (UPI) Yayasan Administrasi Indonesia (YAI), stres dibagi menjadi dua macam: pertama stres yang menyenangkan, yaitu stres yang menjadi pendorong. Contohnya, ketika seseorang mendapatkan tugas, lalu menanggapinya dengan proaktif, sehingga merasa enjoy melaksanakannya. “Inilah stres yang bermanfaat dan menyenangkan,” ungkap Zainuddin.

Kedua, overstress, yang artinya stres ini berada di luar kemampuan. Misalnya ketika seseorang mendapatkan tugas, ia tidak proaktif menyikapinya, sehingga menumpuklah stres tersebut. Akibatnya, muncul gejala-gejala yang tidak sehat, seperti perasaan cemas, khawatir, uring-uringan dan lain sebagainya.

Selanjutnya, dia juga mencontohkan stres ibarat sebuah buku yang ditaruh di atas meja. Ketika buku tersebut ditindih dengan buku lain, secara terus menerus, maka perlahan-lahan, meja itu akan terbebani dan tidak menutup kemungkinan akan patah. “Nah yang ini yang sangat berbahaya. Misalkan meja patah, pada saat bersamaan, orang tersebut sudah mengalami distres, dan ini yang sebenarnya perlu di hindari,” ungkapnya.

Mantan Ketua Bidang Rehabilitasi Mental Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Bogor ini menjelaskan,  yang dimaksud distres ialah sesuatu yang melebihi kemampuan. Sehingga stres tidak selalu negatif, yang negatif adalah distres. “Masyarakat kita selama ini terlanjur salah kaprah dalam memaknai stres. Stres adalah suatu tantangan yang mendorong seseorang untuk berusaha menyelesaikannya, namun bila ia menanggapinya dengan negatif, maka hal tersebut akan menjadi distress” ujar Pembina Fakultas Psikologi UPI YAI ini.

Beragam kiat menghadapi stres, menurut Zainuddin, seseorang biasanya menggunakan dua macam cara: pertama, problem focus coping, yaitu mencari solusi dengan akalnya. Kedua, emosional focus coping, yaitu orang yang mengatasi stres dengan emosinya. Misalnya, kondisi emosi yang marah dan uring-uringan.

Selain itu, ada alternative lain mengh kiatping itu, ada juga instrumental coping, misalnya ketika seseorang mau berangkat kerja, kemudian ia menemukan bahwa ban motornya sudah bocor, seketika ia menendang motornya. “Inilah yang disebut dengan instrumental coping,” tambahnya.

Seperti yang ia kutip dari keterangan Lubis (2007) stres menandakan adannya tuntutan internal dan eksternal untuk merubah atau melawan perubahan karena ada resiko, bahaya dan ancaman. Keadaan stres dapat berlangsung secara cepat ataupun sebaliknya, tergantung dari tiga kemungkinan di bawah ini.

Pertama, terjadinya perubahan ke arah penyesuaian diri, sehingga individu menjadi lebih matang, lebih kuat dan lebih terintegrasi. Kedua, terjadinya penolakan, sehingga kalau ada perubahan, yang terjadi hanya sedikit dan justru individu akan menjadi tentan terhadap stress, sehingga ia akan cenderung menghindar dan bermanifestasi dalam berbagai perilaku defensif, seperti rasionalisasi, proyeksi, kompensasi dan sejenisnya. Dan ketiga, terjadinya distress karena ia tidak mampu menghadapi stres yang melampaui kapabilitasnya untuk berubah.

Untuk mencegah kemungkinan terjadinya ketiga hal tersebut, lanjut Zainuddin, setiap individu harus aktif dan produktif, serta dilandasi dengan pikiran positif untuk mengatasi stres. Apabila menjadi distress, berarti ia jatuh ke dalam kondisi sakit atau tidak sehat, hal ini akan ditandai dengan munculnya gejala depresi, yaitu kecemasan yang mendalam, ketakutan, khawatir, bingung, was-was sakit dan sebagainya.

Ketika seseorang mengalami distres, beragam akibat biasanya muncul. Salah satunya depresi. Depresi ini menimbulkan perasaan sedih yang amat mendalam  sehingga si penderita sendiri tidak tahu apa yang sebenarnya ia rasakan.

Selain itu, imbuh Zainuddin, seorang yang mengalami depresi akan menjadi sangat sensitif, sehingga ia akan menjadi agresif. “Ketika seorang yang mengalami depresi, maka biasanya ia akan menjadi sangat agresif,” ungkap alumus Fakultas Psikologi Universitas Gajah Mada (UGM), Yogyakarta.

Selain itu, imbuh Zainuddin, agresifitas yang timbul akibat depresi, dibagi menjadi dua hal. Pertama, agresif pada diri sendiri, yang berakibat penderita akan bunuh diri, “Kata lainnya adalah suicide,” kata Zainuddin. Kedua, agresif pada orang lain, yang berakibat penderita akan membunuh orang lain. “Maka tidak heran apabila akhir-akhir ini, fenomena bunuh diri marak akibat depresi. itulah akibat dari agresifitas pada diri sendiri,” ungkap pria yang berdomisili di kawasan Sunter, Jakarta Utara.

Jadi, setiap individu dari kita pasti merasakan stres di mana dan kapan pun. Persoalannya bagaimana kita menyikapi dan merespon persoalan tersebut. Jadi, bila kita proaktif menghadapinya, maka akan memperoleh manfaat. Sebaliknya, bila kita cenderung defensif dan menganggap beban berat, serta memandangnya secara negative, maka akan berakibat distress. Inilah yang patut diwaspadai!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: