MINE

Mendidik Anak Bertanggung Jawab

“Ibu jangan marah ya, Ibu tidak bakal marahin Riki kan?,” ujar Riki (2 tahun) kala mengadu kepada Maria, ibunya.

“Aku tidak tahu kalau sepatuku kena pot bunga hingga pecah, maafin ya!, Ibu tidak akan marahin Riki kan?,” tambah Riki memelas. Demikian Riki mengadukan “kesalahannya” kepada sang Ibu sambil berharap maaf. Walaupun masih kecil, nampaknya Riki ingin menunjukkan rasa tanggung jawabnya.

“Iya, ibu gak bakal marahin Riki kok, tapi ibu tetap kecewa karena kamu gak hati-hati naruh sepatunya, kamu pasti naruh sepatunya dilempar ya?” tanya Maria pada Riki. Menurut Maria, kata-kata seperti ini sudah mampu membuat anaknya merasa tidak nyaman dan hal ini menjadi bentuk hukuman juga.

Cara berbeda dalam menumbuhkan tanggung jawab dilakukan Linda terhadap Dewi, anaknya yang berusia 7 tahun. Menurutnya ketika pertama kali masuk Sekolah Dasar (SD), dia membantu menyusun buku pelajaran Dewi setiap hari. Namun setelah beberapa lama Linda membiarkan anaknya menyusun buku pelajarannya sendiri. “Pada mulanya dia berharap saya akan membantunya, tapi saya diam saja. Pernah suatu hari Dewi ditegur gurunya karena tidak membawa buku yang semestinya, hal ini juga menjadi pengalaman yang baik baginya dan dia juga jadi mengetahui akibatnya kalau tidak mempersiapkan buku sesuai dengan daftar mata pelajaran,” papar ibu Lida.

Kedua kisah di atas merupakan bagian diharapkan oleh kedua ibu itu sebagai wahana menumbuhkan rasa tanggung jawab dan mandiri kepada anak mereka.

Pengertian tanggung jawab memang sering kali terasa sukar untuk didefinisikan secara tepat. Adakalanya tanggung jawab dikaitkan dengan menerima konsekwensi dari apa yang telah kita perbuat, atau merupakan suatu keharusan untuk melakukan sesuatu. Banyaknya bentuk tanggung jawab ini  menyebabkan kita terasa sulit untuk menyusunnya dalam bentuk kata-kata yang sederhana dan mudah dipahami. Dosen Psikologi Universitas Pancasila putri langka, M. Psi, mendefinisikan tanggung jawab sebagai suatu konsekwensi dari suatu pekerjaan yang telah seseorang lakukan.

Melatih anak untuk bertanggung jawab sejak dini merupakan langkah yang tepat bahkan harus dilakukan oleh semua orang tua. Mengingat maraknya perilaku anak zaman sekarang banyak yang tidak bertanggung jawab, Menurutnya mendidik anak bertanggug jawab sejak dini akan sangat berguna kelak kala remaja. “Apabila tanggung jawab sudah dibiasakan sejak dini, maka ketika ia beranjak dewasapun sifat ini akan mudah di kembangkan, sehingga hal-hal yang tidak bertanggung jawab dari perbuatan anak itu bisa terreduksi, bahkan hilang ” tandasnya.

Sikap bertanggung jawab bukanlah sikap genetik yang sudah ada pada setiap individu. Tetapi untuk bertanggung jawab memerlukan pembiasaan. Maka perlu peran orang lain untuk membiasakannya anak sedini mungkin dengan memulainya dari hal-hal kecil dulu. Untuk memulainya, seorang anak membutuhkan contoh serta arahan dari lingkungan terdekatnya. Menganai ini Putri berpendapat bahwasanya orang tua merupakan pihak yang paling tepat untuk membantu mengajarkan anak bertanggung jawab karena keduanya adalah orang-orang terdekatnya yang mengetahui kondisi perkembangan jiwa anak. Orang tua memiliki peranan yang sangat signifikan dalam membantu mendidik anak bertanggung jawab, tidak hanya ibu, seorang ayah juga memiliki peran yang sama besarnya dengan ibu, karena apabila seorang ayah sudah tidak sejalan dengan apa yang ibu lakukan pada anaknya, maka anaknya pun akan menirunya, peran ayah sebagai kepala keluarga dialah salah satu pemberi figur yang baik kepada anak serta pendukung ibunya dalam segala aspek yang menyangkut anak, sehingga anak akan benar-benar merasa bahwa keduanya (ibu dan ayah) merupakan figure yang tepat yang harus anak tiru, “begitu juga dalam hal membantu mendidik anak bertanggung jawab, peran seorang ayah sama besarnya dengan peran ibu” tambahnya.

Orang tua perlu mengetahui perkembangan anak. Baik menyangkut perkembangan fisik maupun psikis. Begitu juga dalam membantu mendidik anak bertanggung jawab, orang tua harus mengetahui seluk-beluk dan perkembangan jiwa anaknya. Karena hal ini akan sangat membantunya dalam memilih cara atau metode dalam membantu mengajarkan anak bertanggung jawab. Banyak cara orang tua untuk mengetahui cara melatih rasa tanggung jawab kepada anaknya. Misalnya dengan belajar dari orang tua mereka, atau mengumpulkan informasi dari buku. Bisa juga dengan mengikuti seminar tentang anak, baik itu yang berhubungan dengan perkembangan jiwanya secara umum maupun dalam hal membantunya bertanggung jawab.

Menurut Putri Langka M.Psi, dalam membantu mendidik anak bertanggung jawab, mulailah dari hal-hal yang kecil dengan bertanggung jawab terhadap dirinya sendiri terlebih dulu, seperti anak bisa membersihkan dirinya sendiri, meletakan tas pada tempatnya, kemudian setelah itu bisa dilanjutkan dengan tanggung jawab yang lebih tinggi, yaitu tanggung jawab terhadap keluarga, contohnya membantu membereskan tempat tidurnya setiap hari, “Bahkan mengakui kesalahan yang telah ia lakukan juga merupakan bentuk dari tanggung jawab,” tambahnya, jika pondasi lingkungan internalnya sudah kuat, maka anak akan dapat mengembangkan tanggung jawab di luar lingkungan keluarga, yaitu tanggung jawab terhadap masyarakat ataupun lingkungannya.

Sementara itu Sofiandi, psikologi anak dari Universitas Mahammadiyah Jakarta merinci ada tiga komponen dasar yang berperan dalam perkembangan anak, termasuk dalam hal membantu mendidik anak bertanggung jawab.

Pertama, orang tua. Peran orangtua dalam perkembangan anaknya sangatlah signifikan. Begitu juga dalam membantu mengajarkan tanggung jawab pada anak. Orangtua adalah orang paling dekat dengan anak, maka harus menjadi teladan yang baik. Selain itu kepedulian orang tua akan perkembangan anaknya juga sangat penting. Dalam hal ini diimplementasikan dengan memberikan ruang dan waktu untuk membantu mendidik anak bertanggung jawab secara langsung. “Orangtua jangan hanya bisa bersifat instruktif, tapi bagaimana ia bisa menjadi model bagi anaknya dengan cara terjun langsung, selain itu juga memberikan pemahaman-pemahaman terhadap anak tentang tanggung jawab itu sendiri sangatlah penting” ungkap Sofiandi.

Kedua, lingkungan sekolah. Selain orangtua, sekolah juga memiliki peranan yang tak kalah penting. Kehidupan anak hingga remaja banyak dihabiskan di bangku sekolah. Tuntutan orang tua terhadap sekolah sangatlah tinggi dalam hal pendidikan anaknya. “Walaupun sekolah punya peranan penting, orangtua tidak bisa menyerahkan tanggung jawab pendidikan anaknya secara menyeluruh kepada sekolah” tambah Sofiandi.

Apabila diperhatikan lebih dalam lagi, peran seorang guru di sekolah sekarang ini umumnya bukan seperti hubungan orangtua dengan anak seperti yang diharapkan orangtua. Tetapi hanya sebagai guru dengan siswa. Umumnya saat ini guru bukan berperan sebagai pendidik, namun sebatas mengajar. Tugasnya seakan hanya menyampaikan materi atau mentransfer ilmu. Padahal fungsi seorang guru itu adalah mentransformasikan pengetahuan. “Artinya mengubah prilaku anak, tidak hanya intelektualnya saja, tapi juga perkembangan dan stabilits emosionalnya bahkan sampai spiritualnya anak, tapi ironisnya tiga hal ini banyak yang diabaikan oleh sekolah” jelas Sofiandi.

Ketiga adalah lingkungan. Peranan lingkungan cukup sentral dalam membantu mendidik anak untuk bertanggung jawab. Oleh karena itu orang tua juga diharapkan dapat membentuk lingkungan yang kondusif dalam mendidik anak mereka. Orang tua juga perlu memberikan arahan dan  bimbingan tentang kriteria lingkungan yang baik sangatlah penting. Mereka juga harus membiasakan anaknya berada dalam lingkungan yang positif, walaupun berada  di tengah-tengah lingkungan yang sangat dinamis seperti sekarang ini. Jika hal ini diabaikan, tidak menutup kemungkinan anak akan jatuh kedalam kubangan lingkungan yang jauh dari sifat tanggung jawab. “Seperti hedonisme, gaya hidup yang mengagungkan kenikmatan duniawi semata” ungkap Wakil Dekan I Universitas Muhamadiyah Jakarta ini.

Menurut Sofiandi, kesalahan yang selama ini banyak dilakukan oleh orang tua dalam pendidikan tanggung jawab ialah kurangnya pengarahan dan figure yang baik. Kebanyakan orang tua hanya menjadi penyuruh tanpa memberikan tuntunan serta contoh. Padahal seharusnya orang tua menjadi role model, seperti apa tanggung jawab itu. Karena anak cenderung menjiplak perilaku orang tuanya. Perlu diketahui, pola pikir anak itu kongkrit. Artinya dia akan menyerap apa saja yang ia perhatikan. Selain memberikan arahan serta contoh yang baik, orang tua juga harus bisa mengkomunikasikan tujuan serta manfaat ketika menyuruh melakukan sesuatu pada anaknya.

Sementara itu Elly Risma Musa, Psikolog Yayasan Kita dan Buah Hati mengatakan bahwa orang tua perlu membekali diri dengan tiga hal. Yaitu pengetahuan tingkat perkembangan anak, bagaimana cara otak anak bekerja, dan gaya komunikasi yang diterapkan pada anak. Elly menjelaskan bahwa poin pertama serta kedua bisa dipelajari melalui buku-buku ataupun artikel-artikel terkait, seminar dan konsultasi khusus pada seorang Psikolog. Sedangkan untuk poin yang ketiga, orang tua perlu mengasah keterampilan gaya komunikasinya sendiri. Sehingga gaya berkomunikasinya bisa memotivasi sang anak, misalnya dengan cara memuji anak ketika melakukan sesuatu dengan baik.

Jadi jelaslah, bahwa masalah membantu mendidik anak bertanggung jawab, akhirnya kembali pada orangtuanya itu sendiri. Dengan kata lain terpulang pada nilai-nilai diri orangtua, yaitu seperti yang tercermin dalam mendidik dan mengasuhnya.

  1. makasih artikelnya….
    saya butuh sekali buku-buku ntuk referensi skripsi ssaya tentang pengembangan sikap tanggung jawab. apakah bisa dibantu, buku apa saja yang bisa sy baca!!!!!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: