MINE

Burung Beo yang Berubah Menjadi Burung Bego

Tuesday 10th of December 2009

Aku awali hari ini dengan sebuah kemalasan, aku bangun tidur kesiangan, so shalat subuh pun terlambat juga. Ada pepatah mengatakan, langkah pertama menentukan seribu langkah selanjutnya, bila kita memulainya dengan baik, maka langkah-langkah berikutnya pun akain baik juga, begitu juga sebaliknya.

Ternyata pepatah itu memang benar adanya, karena mungkin aku awali hari ini dengan sebuak kesalahan, terlambat shalat subuh. Sehingga kejadian-kejadian berikutnya pun sungguh sangat merugikan diriku.

Today I have a duty, which is looking for narasumber, I intended to go to Universitas Negri Jakarta (UNJ), aku berangkat sekitar jam 10.30 Wib. Ketika sampai di halte, salah satu referensiku ketinggalan di kantor, tapi entah mengapa waktu itu aku males sekali mengambilnya, aku pikir, aku udah nguasain isinya, jadi buat apa juga aku mengambilnya, buang-buang waktu saja.

Sekitar setengah jam lamanya, aku nunggu angkutan umum yang akan mengantarkanku ke tempat tujuan. Tapi tidak ada satu pun angkutan yang lewat (karena memang gak ada yang langsung menuju ketempat tujuanku), sehingga temanku berinisiatif untuk merubah arah tujuan kita, yang tadinya ke UNJ, dia mengusulkan ke Universitas Indonesia dan Universitas Persada Indonesia di Salemba.

Kondisi jalanan Jakarta waktu itu cukup macet, sehingga Mobil yang membawa kami kearah kampung melayu berjalan lambat sekali. Kami ke salemba lewat kampong melayu.

Sekitar 45 menit lamanya kami berada di atas angkutan (Kopaja), yang dari fisiknya terlihat, jika mobil ini sudah sangat tua. Sepanjang perjalanan, entah mengapa, aku bawaannya tertawa melulu, entah mungkin karena salah satu temanku yang begitu kocak meneleponku, sehingga ketika aku ngobrol dengannya tidak lepas dari tawa riang.

Selepas turun dari kopaja, aku lanjutkan perjalananku menuju salemba dengan menumpangi mikrolet dengan tujuan pasar senin. Aku duduk di jok paling belakang, begitu juga debgan temanku, dia duduk berhadapan denganku.

Tidak lama kemudian, naiklah empat orang laki-laki dengan perawakan yang dua tegap (cocok jadi tentara kaliii….), sedangkan sisanya jangkis-jangkis (jangkung ipis kalau dalam bahasa internasionalnya). Ketika aku sedang asyik bersms ria dengan temanku, tiba-tiba aku dikejutkan dengan suara burung yang meronta, dan ternyata benar, salah satu dari empat lelaki tadi bawa burung.

Sejak burung tersebut bunyi, terjadilah percakapan yang alot antara empat orang lelaki tadi (mirip komentator bola aja, ada kata “alot”nya). Awal mulanya aku gak peduli dengan kesibukan mereka, ngerumpi tentang harga burung yang dimiliki salah satu lelaki tadi (pokoknya waktu itu ramenya melebihi pasar selasaannya jampang kulon), tapi ketika temanku ikut nimbrung, ditambah lagi dia mencoba keahlian burung tadi yang sepertinya bisa ngomong (swear deh, waktu temenku ngetes, burung itu jawab dan ngomong), aku jadi tertarik, tapi aku tidak begitu aja nimbrung, aku masih sebatas pura-pura gak dengar aja (padahal dalam hati konsen banget).

Sampai tibalah pada waktunya tawar-menawar harga burung tersebut, salah satu dari empat lelaki itu menawarkan burung tersebut ketemenku, tapi karena waktu itu temenki gak punya duit, dia hanya menunjukin hp doang, karena hp temenku itu gak bagus-bagus amet, maka laki-laki itu mengganti sasarannya padaku. Entah ada angin dari mana, tiba-tiba prosesnya begitu cepet, aku kasih hp G-TIDE punyaku + uang 100 ribu.

Saat itu aku turun dari mikrolet bareng temanku dengan perasaan tidak menentu, antara senang tapi ragu, dan ternyata yang menjadi kenyataan itu adalah keraguanku. Hp + doku 100 ribu ambles, sebagai gantinya aku dapet burung beo, yang tiba-tiba berubah menjadi burung beo. “Niatnya mau hunting narasumber, tau-taunya malah dapet burung,” komentar temenku.

Kalau aku renungi kejadian ini, aku jadi inget pesan kiaiku KH. Moh. Idris Jauhari, beliau pernah berpesan dalam sebuah ceramahnya, bahwa janganlah sekali-kali kamu mengerjakan sesuatu yang kamu tidak yakini manfaatnya, dengan kata lain kamu ragu-ragu, karena hal itu tidak akan membawa manfaat bagimu.

Disamping itu juga aku jadi sadar, bahwa hari ini, secara langsung aku telah diingatkan oleh Tuhan yang maha kuasa, terima kasih Tuhan atas tegurannya, semoga kedepannya aku bisa lebih baik lagi. Hari ini mungkin akan menjadi hari yang begitu bersejarah dalam perjalanan hidupku sebagai insan dhoif.

“Wama tadri nafsun maa dza takhsibu ghoda, wama tadri nafsun fi ayyi ardhin tamutu”

Sesungguhnya tidak ada satu orang pun yang mengetahui apa yang akan terjadi hari esok, dan tidak ada satu pun yang mengetahui di mana ia akan menghembuskan nafas terakhirnya.

  1. asyik,,,asyik dapet burung beo…hehehehehe😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: