MINE

Korupsi? Bunuh saja!

In Artikel on 30 November 2013 at 00:26

KARIKATUR KorupsiJika Zhu Rong Zhi, mantan Perdana Menteri China pada 1998 mengatakan: “Saya akan sediakan 100 buah peti mati. 99 untuk para koruptor dan 1 lagi untuk saya, apabila saya melakukan hal yang sama.” Dan memang kemudian dia membuktikan kata-katanya dengan menembak mati/ menyuntik mati para koruptor. Lain halnya dengan para koruptor di negeri ini yang masih bisa menghirup udara pagi, walaupun sebesar apapun uang rakyat yang sudah dicurinya. Mungkin diantara kita ada yang masih ingat bagaimana Anas Urbaningrum, mantan Ketua Umum sebuah partai yang berkuasa, pernah mengatakan kata-kata yang menggemparkan negeri ini, yaitu “Kalau ada satu rupiah saja Anas korupsi Wisma Atlet dan Hambalang, gantung Anas di Monas!”

Jika ditilik lebih dalam lagi, kata-kata tersebut mengisyaratkan lemahnya hukuman yang selama ini didapat oleh para koruptor, sehingga tidak menghadirkan efek jera dan korupsi malah semakin menjadi-jadi. Sehingga dengan kata lain, hukuman semacam ini, atau bentuk lainnya hukuman mati, sudah selayaknya diterapkan di negeri rumahnya para koruptor ini.

Setidaknya ada tiga alasan mengapa seorang koruptor harus dihukum mati. Pertama, agar tidak ada lagi tantangan sebagai akibat dari pelecehan terhadap penegak hukum di negeri ini. Kedua, sebagai sebuah pembuktian terhadap publik bahwa penegak hukum bisa bertindak tegas dan tidak pandang bulu. Ketiga, sebagai contoh bagi yang lain, sehingga menimbulkan efek jera.

Pertama, jika seorang koruptor diberi hukuman mati, maka tidak akan ada lagi tantangan sebagai akibat dari pelecehan terhadap para penegak hukum di negeri ini. Tantangan karena selama ini semangat dan konsistensi mereka (para penegak hukum-red) sering mengalami pasang surut. Sehingga dalam kenyataannya masih banyak kasus-kasus korupsi besar yang masih belum terungkap, sebut saja kasus bailout Bank Century yang masih terkatung-katung hingga saat ini. Sedangkan yang dimaksud pelecehan ialah karena apa yang sudah dilakukan oleh para penegak hukum dalam memberantas korupsi selama ini bukanlah hal yang besar. Sehingga dengan pernyataannya itu, Anas melecehkan kemampuan para penegak hukum yang sering tebang pilih.

Kedua, jika seorang koruptor kelas kakap terbukti bersalah dan diberi hukuman mati, maka ini akan menjadi sebuah pembuktian terhadap publik bahwa para penegak hukum di negeri ini dapat bertindak tegas dan tidak pandang bulu. Sehingga tingkat kepercayaan publik terhadap kinerja mereka dalam memberantas korupsi akan kembali meningkat.  Hal ini sesuai dengan apa yang diungkapkan Lembaga survei Jaringan Suara Indonesia (JSI) bahwa tingkat kepuasan publik terhadap kinerja lembaga hukum di Indonesia pada tahun 2011 lalu, hanya 31.1 persen yang menyatakan penegakan hukum di Indonesia baik, 39.7 persen menyatakan buruk, 19.9 persen tidak baik maupun tidak buruk, dan 9.2 persen tidak tahu (Tempo Interaktif, 2 Nopember 2011).

Ketiga, tidak dapat dipungkiri, maraknya kasus korupsi yang terjadi disebabkan oleh  hukuman yang tidak sebanding. Akibatnya, hal tersebut tidak menimbulkan efek jera bagi para pelakunya. Oleh karena itu, dengan dipilihnya hukuman mati sebagai hukuman yang pantas bagi para koruptor, hal ini bisa menjadi sebuah warning bagi para koruptor yang masih berkeliaran, agar mereka bisa menyadari kesalahannya dan segera bertobat. Bagi para narapidana korupsi, hal ini bisa menimbulkan efek jera. Sehingga mereka tidak mengulangi hal yang sama. Sedangkan bagi para pejabat yang baru mempunyai niat untuk melakukannya, segera urungkan niat jeleknya itu dan kembalilah ke jalan yang benar.

Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa hukuman mati bisa menjadi sebuah pilihan yang tepat dalam memberantas korupsi di negeri ini, sehingga tidak ada lagi pelecehan dan tantangan terhadap para penegak hukum, baik KPK, kepolisian dan Mahkaman Agung, seperti halnya yang dilakukan Anas melalui kata-katanya itu. Dalam hal ini para penegak hukum harus meresponnya dengan cara bekerja lebih maksimal lagi dalam mengentaskan kasus korupsi dengan tanpa pandang bulu. Sehingga pada akhirnya hukuman mati ini dapat membuat efek jera dan juga membunuh mata rantai korupsi di negeri ini.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: