MINE

Celurit Sebagai Salah Satu Simbol Tradisi Carok Pada Masyarakat Adat Madura: Analisis Semiotik Konotatif Rolan Barthes

In Artikel on 26 November 2013 at 01:13

Pendahuluan

Tidak berlebihan bila kita mengatakan bahwa hidup itu penuh dengan misteri dan fenomena yang tidak semuanya kita ketahui dan pahami. Dan seringkali hal tersebut perlu kita ketahui dan pahami, karena bisa jadi hal itu merupakan sebuah bentuk dari komunikasi antara kita dengannya. Salah satu dari hal tersebut ialah tanda. Supaya tanda itu bisa dipahami secara benar dan sama mem-butuhkan konsep yang sama supaya tidak terjadi misunderstanding atau salah pengertian. Namun pada kenyataannya tanda itu tidak selamanya bisa dipahami secara benar dan sama di antara masyarakat. Setiap orang memiliki interpretasi makna tersendiri dan tentu saja dengan berbagai alasan yang melatarbelakanginya, karena setiap orang tentunya memiliki rujukan yang berbeda dari tanda-tanda tersebut.

Celurit merupakan suatu benda, yang sekaligus suatu tanda. Celurit bisa menandakan atau merujuk pada suatu perkakas yang biasa digunakan sebagai alat untuk memotong rumput. Akan tetapi, dalam tradisi kebudayaan masyarakat madura, celurit tidak hanya merujuk pada hal tersebut diatas, lebih jauh lagi celurit merujuk pada salah satu tradisi yang sudah turun temurun, yaitu tadisi Carok. Sehingga dalam hal ini, makna atau arti celurit yang kedua itu merupakan makna konotasi yang tentunya disepakati oleh masyarakat adat madura. Hal ini yang menjadi ketertarikan penulis untuk mengangkat topik ini sebagai pembahasan dalam tulisan ini. Sehingga, dalam tulisan ini penulis akan membahas apa itu carok dalam masyarakat adat Madura, serta bagaimana celurit menjadi simbol dari tradisi Carok, dengan menggunakan teori pendekatan semiotik konotatif Roland Barthes.

Pembahasan

1. Pengertian Carok

Apa itu carok? Mungkin sebuah kata yang asing bagi sebagian kita, terutama yang belum pernah keep in touch dengan wilayah Madura khusunya, dan Timur Jawa secara umum. Menurut Arianto (2011: 1) kata Carok sendiri berasal dari bahasa Madura yang berarti ‘bertarung dengan kehormatan’. Biasanya, “Carok” merupakan jalan terakhir yang di tempuh oleh masyarakat suku Madura dalam menyelesaikan suatu masalah.

Carok itu ialah suatu tindakan atau upaya pembunuhan (karena adakalanya berupa penganiayaan berat) menggunakan senjata tajam, pada umumnya celurit, yang dilakukan oleh orang laki-laki (tidak pernah perempuan) terhadap laki-laki lain yang dianggap telah melakukan pelecehan terhadap harga diri, baik secara individu sebagai suami maupun secara kolektif yang mencakup kerabat atau keluarga, terutama berkaitan dengan masalah kehormatan istri sehingga membuat malo (malu).

Dalam bahasa Madura, selain kata malo, terdapat juga kata todus, yang dalam bahasa Indonesia kedua-duanya diterjemahkan sebagai malu. Tetapi dalam konteks kehidupan social budaya Madura, keduanya memiliki pengertian yang berbeda. Todus lebih merupakan suatu ungkapan keengganan (tidak ada kemauan) untuk melakukan sesuatu, karena adanya berbagai kendala yang bersifat social budaya. Contohnya ialah kebiasaan yang berlaku di Madura, dimana seorang manantu tidak boleh menatap wajah mertuanya secara langsung ketika sedang berbicara, dan apabila tidak sengaja melanggarnya, maka dia akan merasa todus. Jadi todus itu muncul dalam diri seseorang sebagai akibat dari tindakan dirinya sendiri yang menyimpang dari aturan-aturan normative. Sedangkan malo muncul sebagai akibat dari perlakuan orang lain yang mengingkari atau tidak mengakui kapasitas dirinya, sehingga yang bersangkutan merasa menjadi terhina.

Sebagai seorang yang pernah tinggal sekitar 5 tahun di wilayah Timur Jawa, tepatnya di Madura, penulis sudah sering mendengar istilah Carok ini. Menurut informasi yang penulis dengar, Carok selalu dilakukan oleh sesama laki-laki dalam lingkungan orang-orang desa. Setiap kali terjadi Carok, hampir semua orang yang mendengarnya pasti memperbincangkannya. Uniknya, mereka (orang Madura) tidak pernah menyebut istilah pembunuh bagi pelaku Carok yang mampu membinasakan lawannya. Bahkan, mereka tidak pernah mengecam atau mengutuk pelakunya.

Hal ini sangat berbeda jika dibandingkan dengan suatu peristiwa pembunuhan yang dilakukan oleh seorang suami terhadap istrinya yang terjadi di suatu desa dalam wilayah kecamatan kota Sumenep (salah satu kabupaten di pulau Madura) sekitar awal tahun 1960-an. Semua penduduk di desa tersebut menyebut suami itu sebagai pembunuh kejam dan tidak berprikemanusiaan. Berdasarkan kasus di atas, jelas sekali bahwa tidak semua pembunuhan yang terjadi di Madura dapat di sebut carok. (Wiyata, 2006: 1-2)

Pada dasarnya, semua kasus carok diawali oleh konflik. Meskipun konflik tersebut dilatarbelakangi oleh permasalahan berbeda, diantara konflik-konflik tersebut biasanya berhubungan dengan permasalahan perempuan, tuduhan mencuri, perebutan warisan dan pembalasan dendam. Keseluruhan hal ini mengacu kepada akar yang sama, yaitu perasaan malo (malu) karena pelecehan harga diri (martabat).

Dalam realitas sosial kehidupan Madura, tindakan mengganggu istri orang atau perselingkuhan merupakan bentuk pelecehan harga diri paling menyakitkan bagi laki-laki orang Madura, dan biasanya tidak ada cara untuk menebusnya kecuali dengan membunuh (Carok) orang yang mengganggunya. Kaitannya dengan ini, seorang penyair Madura, Imron (Dalam Wiyata, 2006: 173), menemukan ungkapan yang berbunyi, “saya kawin dinikahkan oleh penghulu, disaksikan oleh orang banyak, serta dengan memenuhi peraturan agama. Maka siapa saja yang mengganggu istri saya, berarti menghina agama saya sekaligus menginjak-injak kepala saya.” Dari ungkapan ini sudah jelas, bahwa martabat dan kehormatan istri merupakan manifestasi dari martabat dan kehormatan suami, karena istri adalah landasan kematian. (Wiyata, 2006: 170-174)

Dengan demikian, menurut Wiyata (2006: 184) pengertian carok paling tidak harus mengandung lima unsur, yaitu tindakan atau upaya pembunuhan antar laki-laki; pelecehan harga diri, terutama berkaitan dengan kehormatan perempuan (istri); perasaan malu (malo); adanya dorongan, dukungan, serta persetujuan sosial; perasaan puas dan bangga bagi pemenangnya.

Jika dicermati lebih dalam lagi dari apa yang dipaparkan di atas, pada dasarnya mengandung makna bagaimana orang Madura memandang institusi perkawinan, secara khusus, dan bentuk pelecehan harga diri yang lain secara umum, sebagai bentuk maskulinitas. Orang Madura memandang institusi perkawinan sebagai manifestasi kelaki-lakian (maskulinitas). Maksudnya, seorang laki-laki baru akan menemukan dirinya sebagai seorang laki-laki apabila telah menikah.

Dalam konteks ini, maskulinitas semakin dipertaruhkan lagi bilamana terjadi tindakan gangguan terhadap istri mereka, karena hal itu dianggap sebagai pelecehan harga diri yang sangat menyakiti hati seorang laki-laki (suami). Sehingga hal ini biasanya menjadi salah satu pemicu terjadinya Carok. Ada sebuah ungkapan Madura yang berbunyi, “Lokana daghing bisa ejhai’, lokana ate tada tambhana kajhabana ngero dara,” yang memiliki arti, “Daging yang terluka masih bisa dijahit, namun jika hati yang terluka tidak ada obatnya, kecuali minum darah.”

Carok, selain sebagai sebuah manifestasi dari maskulinitas, bentuk kekerasan ini juga seringkali sebagai manifestasi dari identitas (identity), khususnya menyangkut kolektifitas (Collectivism). Hal ini bisa dilihat dari kasus-kasus carok yang terjadi, yang tidak hanya berlangsung antara individu dengan individu lain, akan tetapi bisa saja antara satu keluarga dengan keluarga lain, atau pun suatu kelompok dengan kelompok lain. Contoh kasus yang pernah terjadi ialah seperti yang terjadi di kabupaten Pamekasan, pada permulaan Mei 2007. Seperti yang diberitakan Baidowi dalam Koran Harian Seputar Indonesia (Sindo), saat itu Terjadi carok massal di Desa Bujur Tengah antara pendukung Kepala Desa H. Mursyidin dengan mantan Kepala Desa, H. Beidewi. Carok massal tersebut dipicu sengketa tanah kas desa, dan kejadian tersebut memakan korban 7 orang tewas dan 9 luka-luka.

2. Teori Semiotik Roland Barthes

Semiotik ialah ilmu yang membahas tentang tanda. Sedangkan menurut Van Zoest semiotik adalah cabang ilmu yang berurusan dengan dengan pengkajian tanda dan segala sesuatu yang berhubungan dengan tanda, seperti sistem tanda dan proses yang berlaku bagi tanda (1993:1). Semiotik merupakan ilmu yang mempelajari sederetan luas obyek-obyek, peristiwa-peristiwa, seluruh kebudayaan sebagai tanda.

Menurut Christomy (2004: 82-83) terdapat tiga bidang kajian dalam semiotika: pertama, semiotika komunikasi yang menekuni tanda sebagai bagian bagian dari proses komunikasi. Kedua, semiotika konotasi, yaitu yang mempelajari makna konotasi dari tanda. Dalam hubungan antarmanusia, sering terjadi tanda yang diberikan seseorang dipahami secara berbeda oleh penerimanya. Semiotika konotatif sangat berkembang dalam pengkajian karya sastra. Tokoh utamanya adalah Roland Barthes, yang menekuni makna kedua di balik bentuk tertentu. Yang ketiga adalah semiotika ekspansif dengan tokohnya yang paling terkenal Julia Kristeva. Dalam semiotika jenis ini, pengertian tanda kehilangan tempat sentralnya karena digantikan oleh pengertian produksi arti. Tujuan semiotika ekspansif adalah mengejar ilmu total dan bermimpi menggantikan filsafat.

Dalam bukunya yang berjudul Mitologi, Barthes (2009: 158-162) mengembangkan teori signifiant-signifie miliknya Saussure menjadi teori tentang metabahasa dan konotasi, dalam bukunya Mythology menjelaskan bahwa sistem signifikasi tanda terdiri atas relasi (R = relation) antara tanda (E = expression) dan maknanya (C = content). Sistem signifikasi tanda tersebut dibagi menjadi sistem pertama (primer) yang disebut sistem denotatif dan sistem kedua (sekunder) yang dibagi lagi menjadi dua yaitu sistem konotatif dan sistem metabahasa.

Menurut Pialang (Dalam Christomy, 94:95) sistem denotatif adalah sistem pertandaan yang menjelaskan hubungan antara penanda dan petanda, atau antara tanda dan rujukannya pada realitas, yang menghasilkan makna yang langsung dan pasti. Dengan kata lain, makna denotasi adalah makna pada apa yang tampak, sehingga makna denotasi mempunyai tingkat konvensi yang tinggi. Sedangkan dalam sistem konotatif terdapat perluasan atas signifikasi tanda (E) pada sistem denotatif. Konotasi adalah tingkat pertandaan yang menjelaskan hubungan antara penanda dan petanda, yang di dalamnya beroperasi makna yang tidak eksplisit, tidak langsung dan tidak pasti (artinya terbuka terhadap berbagai kemungkinan). Ia menciptakan makna lapis kedua, yang terbentuk ketika penanda dikaitkan dengan berbagai aspek psikologis, seperti perasaan, emosi atau keyakinan. Sementara itu di dalam sistem metabahasa terhadap perluasan atas signifikasi makna (C) pada sistem denotatif. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa sistem konotatif dan sistem metabahasa merupakan perluasan dari sistem denotatif.

Menurut Barthes (2009: 109) Konotasi yang mantap dapat berkembang menjadi mitos, yaitu makna tersembunyi yang secara sadar disepakati oleh komunitas. Mitos yang mantap dapat berkembang menjadi sebuah ideologi, yaitu sesuatu yang mendasari pemikiran sebuah komunitas sehingga secara tidak sadar pandangan mereka dipengaruhi oleh ideologi tersebut.

3. Celurit sebagai simbol dari tradisi Carok dalam Masyarakat adat Madura

Celurit sebagai sebuah tanda tentunya merujuk pada sebuah hal/ benda. Dalam makna denotatifnya, celurit tentu saja merujuk pada sebuah perkakas, yang biasanya digunakan utuk memotong, khususnya rumput atau padi, yang terbuat dari besi atau baja. Sebagai makna denotatif, hal ini jelas sekali memiliki tingkat konveksi yang tinggi.

Dalam teori semiotik Barthes, makna denotatif merupakan pijakan untuk memunculkan makna konotasinya. Sehingga, celurit, dalam makna konotasinya merujuk pada suatu tradisi carok, bertarung dengan kehormatan, dalam tradisi masyarakat adat Madura. Bertarung untuk membela kehormatan pastinya membutuhkan tekad, keberanian dan kekuatan yang kuat. Hal ini seiring dengan konstruksi dari celurit itu sendiri yang terbuat dari baja atau besi yang tentunya keduanya merupakan bahan yang keras atau kuat.

Perpaduan antara tradisi carok dalam masyarakat adat Madura dan juga Celurit sebagai simbol atau tandanya, memunculkan maskulinitas dari seorang pria pelaku carok. Carok, seperti yang sudah dijelaskan di atas, selain sebagai manifestasi dari maskulinitas, bentuk kekerasan ini juga seringkali dianggap sebagai manifestasi dari identitas (identity), khususnya menyangkut kolektifitas. Pada bagian inilah yang menurut penulis merupakan makna konotasi yang mantap, yang disebut dengan mitos oleh Barthes. Sehingga berangkat dari makna konotasi ini lalu kemudian menjadi mitos, yang apabila berkembang semakin kuat akan menjadi idiologi dalam diri setiap individu. Dalam kasus carok ini, tentu saja masyarakat adat madura menjadikannya sebagai cara yang tepat untuk mempertahankan dan mengangkat harga diri yang sudah terinjak-injak.

Wallahu a’alam bi showab

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: