MINE

Kesusastraan Inggris Akhir Pertengahan Abad 20 Wilayah Karibia dan West Indies

In Artikel on 7 Oktober 2012 at 05:38

A.    Sejarah Singkatnya

tinta

Kesusastraan Inggis akhir pertengahan abad 20 sering disebut juga sebagai kesusastraan pasca kolonial (post-colonial literature). Istilah “post-colonial” digunakan untuk menutupi semua budaya yang dipengaruhi oleh proses imperialisme dari sejak zaman penjajahan hingga saat ini. Hal ini terjadi karena adanya keberlangsungan proses sejarah yang diprakarsai oleh agresi imperialisme Eropa. Diantara negara-negara yang termasuk pada kategori post-colonial litaratures ialah negara-negara Afrika, Australia, Bangladesh, Kanada, negara-negara Karibia, India, Malaysia, Malta, Selandia baru, Pakistan, Singapura, negara-negara kepulauan pasifik selatan dan sri Lanka. Sesuatu yang menjadi ciri khas dari bentuk kesusastraan pada masa ini ialah bahwa masing-masing literature memiliki karakteristik yang umum dan khusus yang ada pada bentuk sekarang ini merupakan hasil dari pengalaman masa penjajahan dan kekuatan imperialisme yang terjadi.

(http://www.postcolonialweb.org/poldiscourse/ashcroft3a.html)

Selanjutnya apa itu yang dimaksud dengan Karibia dan West Indies? Seperti yang saya kutip dari keterangan wikipedia, Karibia ialah sebuah group dari pulau-pulau yang memisahkan teluk Meksiko dan laut Karibia ke sebelah barat dan selatan, dan ke timur serta utara dari samudera atlantik. Istilah Karibia juga memiliki kegunaan/ arti yang ganda, dalam hal ini utamanya berhubungan dengan geografis dan politik. Karibia juga bisa menunjuk kepada daerah-daerah (territories) yang memiliki hubungan budaya dan sejarah yang kuat dengan sistem perbudakan, tanaman dan penjajahan yang dilakukan orang-orang Eropa. (http://en.wikipedia.org/wiki/Caribbean)

Sementara itu, yang dimaksud dengan wilayah West Indies ialah sebagian negara kepulauan antara Amerika tenggara dan Amerika Selatan yang memisahkan laut karibia dan samudera atlantik. Ada kesamaan antara definisi karibia dan West Indies karena memang Karibia merupakan bagian dari pengelompokan negara-negara yang termasuk wilayah West Indies. Diantara negara-negara yang termasuk wilayah West Indies ialah Anguilla, Antigua and Barbuda, Bahamas, Barbados, pulau Bay, Belize, pulau British Virgin, pulau Cayman, Dominica, Grenada, Guyana, Jamaica, Montserrat, Saint Croix (briefly), Saint Kitts dan Nevis, Saint Lucia, Saint Vincent dan Grenadines, Trinidad dan Tobagodan Pulau Turks dan Caicos. (http://www.thefreedictionary.com/West+Indies)

Menurut Britannica online, Karibia tidak memiliki kebiasaan pribumi/ yang berasal dari penduduk asli dalam hal menulis/ penulisan. Hal tersebut disimpulkan dari fakta yang menyatakan bahwa orang Amerika suku indian yang ada sebelum Columbus menemukan pulau-pulaunya hanya meninggalkan sedikit peninggalan yang berupa ukiran dan petroglyphs. Lebih jauh lagi, tradisi lisan mereka juga tampak memudar seiring kepunahan/ kematian mereka akibat penjajahan bangsa Spanyol pada abad ke 16.

Selanjutnya, peradaban yang menggantikan hal tersebut (peradaban orang Amerika suku indian), terbentuk sebagai akibat dari beberapa orang-orang Afrika Barat yang dibawa ke daerah West Indies untuk dijadikan budak, juga tidak memiliki tradisi tulis menulis sendiri, lebih-lebih lagi karena mereka dilarang untuk mengembangkan hal tersebut dan mereka juga menderita akibat perbudakan. Akan tetapi, dalam satu sisi orang-orang Afrika juga menularkan budaya lisannya dalam bentuk lagu dan cerita. Dalam hal ini, menurut penulis seperti Kamau Brathwaite merupakan sebuah bukti adanya warisan Afrika di karibia.

Terobosan tulisan yang pertama, berangkat dari tiruan penjajah Eropa, muncul di luar Karibia, tepatnya di Prancis dan Spanyol. Dimulai pada sekitar tahun 1920, para penulis seperti Aimé Cesaire dari Martinique, Luis Matos pales dari Puerto Rico, Jacques Roumain dari Haiti, Nicolás Guillen dari Kuba, dan Léon Damas dari Guyana Perancis adalah orang-orang yang pertama mencoba mengukir ciri khas/ identitas dari kesusastraan Karibia. Identitas tersebut tidak didasarkan pada cita-cita/ bentuk-bentuk Eropa tetapi pada hubungan antara komunitas kulit hitam di Karibia. (http://www.postcolonialweb.org/caribbean/history/whyhis.html)

Pada perkembangannya, kesusastraan Inggris di wilayah Karibia dan West Indies terus berkembang sesuai dengan perkembangan zaman. Pada periode ini, yaitu akhir pertengahan abad 20 atau disebut juga post-colonialism, karya-karya kesusastraan juga tidak terlepas dari situasi dan kondisi masyarakat yang ada pada saat itu, karena karya sastra itu merupakan miniatur dari gambaran situasi masyarakan yang terjadi saat karya sastra itu diciptakan. Sehingga corak/ ciri dari karya sastra pada periode ini tidak terlepas dari hal-hal yang berkaitan dengan kolonialisme dan rasisme, khususnya yang berkaitan dengan apartheid, pemisahan antara kulit putih dan kulit hitam (pribumi), yang terjadi pada saat itu. Hal ini dibuktikan dalam karya-karya yang dihasilkan oleh tokoh-tokoh pada periode ini seperti Nadine Gordimer dan V.S. Naipaul, yang akan secara khusus dibahas pada bagian berikutnya.

B.     Tokoh-Tokohnya

Di antara tokoh-tokoh kesusastraan pada abad ini yang terkenal ialah Nadine Gordimer dan Vidiadhar Surajprasad Naipaul. Untuk lebih jelasnya, akan dipaparkan riwayat hidup serta karya-karyanya berikut ini.

 1.      Vidiadhar Surajprasad Naipaul

Vidiadhar Surajprasad Naipaul atau lebih sering dikenal dengan V. S. Naipaul adalah seorang penulis Britania kelahiran Hindia Barat. Lahir di Chaguanas, Trinidad dan Tobago, pada tanggal 17 Agustus 1932. Sejak tahun 1950, dia menetap di Britania Raya.

Pada tahun 1990, Ratu Elisabeth menganugerahinya gelar kebangsawanan. Dia juga mendapatkan Penghargaan Nobel dalam Sastra pada 2001. Dalam beberapa bukunya, ia memusatkan diri pada peran agama, seperti Islam, dan ia menuai kritikan karena bertumpu dari sudut negatif, seperti nihilisme di antara fundamentalis. Nasionalisme dan kolonialisme juga menjadi tema dalam buku-bukunya. Walaupun demikian, dia menjadi tokoh yang dicaci di Pakistan.

 

Analisis Karya

Salah satu karya V.S Naipaul yang juga terkenal ialah Cerpen yang berjudul The Convert. Cerpen ini berkisah tentang seorang laki-laki muslim yang memiliki latar belakang keturunan Sumatera, yang terkenal dengan prinsipnya,  yang bernama Imaduddin. Dia “berbelot” dari kebiasaan keluarganya dalam pemilihan negara tujuan untuk melanjutkan jenjang pendidikannya. Selama ini, keluarganya selalu melanjutkan jenjang pendidikannya ke negara-negara muslim seperti mesir tepatnya ke Universitas Al-azhar yang ada di Kairo. Akan tetapi, dia berbelot dengan melanjutkan kuliahnya di Universitas Lowa yang ada di Amerika.

Dalam Cerpen ini juga, penulis menceritakan bahwa Imaduddin ada kesamaan dengan mantan ketua PBNU dan juga Presiden Negara ini, yaitu KH. Abdurahman Wahid. Perbedaannya hanya pada latar belakang suku saja. Selain itu, dalam cerpen ini juga penulis menceritakan bahwa dia Imaduddin bercerita kepadanya tentang sejarah pendidikan dirinya oleh keluarganya, tepatnya pada saat kependudukan Jepang di Indonesia. Akan tetapi, secara keseluruhan isi dari Cerpen ini bercerita tentang kehidupan Imaduddin dari sejak dia mengetahui pendidikan sampai ditulisnya Cerpen ini.

Dalam Cerpen ini, penulis menggunakan sudut pandang orang pertama, dalam hal ini yaitu penulis sendiri. Dia merupakan orang yang serba tahu (broad-minded). Dia juga serang traveller dan ini adalah salah satu karya travelling-nya, dengan kata lain dia bisa disebut bahwa V.S. Naipaul adalah travel writter.

Dalam Cerpen ini juga diceritakan bahwa penulis (narrator) turur serta dalam prosesi pembaiatan seorang warga Oklahoma, Amerika, yang berpindah agama menjadi Islam, karena dia akan menikah dengan seorang wanita pribumi yang beragama Islam. Dia mengukita prosesi tersebut sampai tuntas.

Dilihat dari judulnya, A Convert secara bahasa artinya ialah muallaf atau berubah, dalam hal ini berubah dari satu agama ke agama lain. Akan tetapi, menurut saya maksud dari judul tersebut tidak lah sesempit itu. Maksud dari a Conver disini maknanya sangat luas sekali. Convert disini bisa berarti perubahan prinsip dalam hidup. Dalam cerpen ini ialah perubahan kebiasaan keluarga yang “dilanggar” oleh Imaduddin yang berhubungan dengan tempat menuntut ilmu. Hal tersebut sama dengan apa yang dilakukan oleh Gus Dur terhadap apa yang ayah dan kakeknya lakukan. Berikut kutipan yang menunjukan hal ini:

“After that the young man went for four years to Cairo, to the Islamic University of Al-Azhar. His education so far had been like that of Mr. Wahid’s grandfather and father.”

Kutipan di atas jelas sekali menyatakan bahwa orangtua Imaduddin dan Gus Dur telah menyelesaikan studinya di kairo. Hal ini jelas sekali bahwa Imaduddin sangat menyukai kebebasan dalam hidup, dalam artian tidak ada penjajahan (colonialism). Prinsip ini telah tumbuh dalam dirinya sejak kecil, yaitu saat ia bersekolah di sekolah Belanda. Berikut kutipannya:

“The teacher asked Imaduddin, “Why are you doing this?”

“Because we want independence.”

“After independence what are you going to do? Do you know?”

“I don’t know.”

“How are you going to build this country in you don’t have doctors, engineers? You should go back to school and study.”

Kutipan di atas menjelaskan bahwa saking inginnya dia memperoleh kebebasan dalam hidupnya, dia ingin berhenti sekolah gara-gara ingin ikut memperjuangkan kemerdekaan pada saat itu. Akan tetapi gurunya berehasil “menyadarkan”-nya.

Dalam kisah Cerpen ini juga diceritakan bahwa walaupun Gus Dur dan Imaduddin melanjutkan studinya ke negara sekular dan liberal yaitu Amerika, tapi pendirian dan keimanan mereka tidaklah berubah. Imaduddin tetap pada pendiriannya bahwa kolonialisme/ penjajahan harus dihapuskan dan harus menjungjung tinggi kebebasan dan toleransi, karena hal tersebut juga merupakan ajaran Islam. Walaupun kebebasan disini ada batasan-batasannya. Berikut kutipannya:

“….he said. “Islam is for freedom. It is anti-colonialist.”

Imaduddin juga mengisahkan kepada penulis bahwa saking gencarnya dia menyuarakan hal ini, pada tahun 1978 dan 1979 ia pernah dipenjara gara-gara mengkririk Suharto.

“…he had learned in jail in 1978 and 1979 from the former foreign minister, Subandrio, “never criticize Suharto.”

 Menurut saya, Cerpen ini menceritakan sebuah kisah hidup yang sangat inspiratif dan dapat memotivasi pembacanya, karena memang isi cerita/ kisah orang yang diceritakannya sungguh sebuah contoh bagus. Bagaimana seorang laki-laki yang berasal dari provinsi Sumatera yang terkenal dengan kekokohannya berpegang teguh pada prinsip hidupnya, yaitu walaupun hidup di dunia atau wilayah buruk pun, dia tetap tidak akan terpengaruh sama sekali, bahkan dapat mempengaruhi orang lain, dan dia membuktikan bahwa dia bisa melakukan hal tersebut.

Cerpen ini juga menunjukan karakteristik atau ciri-ciri dari kesusastraan Inggris yang muncul pada periode akhir pertengahan abad 20, yaitu tema ceritanya berhubungan dengan kolonialisme.

 2.      Nadine Gordimer

Nadine Gordimer ialah seorang novelis and Cerpenis penulis yang berasal dari Afrika Selatan. Dilahirkan pada 20 Nopember 1923 dari sebuah keluarga kaya raya di daerah Springs, Transvaal, sebuah kota pertambangan di wilayah East Rand di luar kota Johannesburg. Ayahnya ialah seorang imigran, dia berasal dari Latvia, seorang Yahudi yang berprofesi sebagai pedagang perhiasan, sedangkan ibunya berdarah Inggris.

Gordimer dididik di sebuah sekolah katolik yang ketat. Akan tetapi dia juga sering berdiam diri di rumah, bahkan diisolasi oleh ibunya, karena ibunya selalu membayangkan bahwa ia memiliki kelainan dengan jantungnya. Ia juga hanya menghabiskan setahun di Universitas Witwaterstrand, Johannesburg tanpa meraih gelar. Karena sering diisolasi oleh ibunya, dia pun memulai menulis untuk mengisi kegiatannya.

Gordimer mulai menulis ketika usianya mencapai sembilan tahun, dan ketika usianya mencapai 15 tahun, dia menerbitkan karya pertamanya yaitu sebuah Cerpen untuk anak-anak yang berjudul The Quest for Seen Gold yang terbit di Children’s Sunday Express, tepatnya pada tahun 1937. Cerita anak-anak lainnya yang berjudul Come Again Tomorrow terbit di Forum para waktu yang sama.

Sejak kecil, Gordimer telah sering menyaksikan ketidakadilan atas perlakuan diskriminatif yang dilakukan oleh orang-orang kulit putih terhadap orang-orang kulit hitam, dan bagaimana minoritas kulit putih terus mengurangi hak-hak kaum mayoritas kulit hitam. Sehingga tulisannya kebanyakan berhubungan dengan tema-tema moral dan psikologis negaranya yang terpecah oleh rasisme, diantaranya seperti novel Occasion For Loving yang bercerita tentang kisah cinta terlarang antara seorang pria kulit hitam dan wanita kulit putih yang berakhir dengan pahit, dan juga novel Burger’s Daughter (1979) yang ditulis setelah kerusuha Soweto (south westrn Township), yang berkisah tentang seorang anak perempuan yang menganalisa hubungan antara dirinya dengan ayahnya, seorang martir dalam pergerakan anti apartheid.

Sejak 1948, Gordimer tinggal di Johannesburg. Ia juga mengajar di beberapa universitas di Amerika Serikat sepanjang tahun 1960-1970-an. Selain menulis, Gordimer juga membuat film dokumenter televisi, dan yang paling terkenal adalah saat ia bekerja sama dengan putranya, Hugo Cassirer, dalam film “Choosing Justice: Allan Boesak”. Selain itu, Ia juga merupakan pendiri organisasi Congress of South African Writers. Bahkan saat rezim apartheid sedang dalam masa puncak, ia tak pernah meninggalkan negerinya.

Timbal balik dari aktivitasnya dalam menulis sastra yang digunakan untuk memperjuangkan gerakan anti-apartheid, Nadine Gordimer akhirnya kebanjiran penghargaan internasional. Dimulai pada tahun 1961, dia mendapatkan W. H. Smith Commonwealth Literary Award dari Inggris dan Booker Prizer pada 1974 untuk karyanya The Conservationist. Puncaknya ialah ketika ia menerima Nobel untuk sastra pada tahun 1991. Ketika menerima Nobel tahun 1991, Presiden F.W. de Klerk tidak memberikan ucapan selamat kepada Gordimer karena pemerintah apartheid masih berkuasa.

Sebenarnya, Gordimer baru benar-benar terlibat dalam aktivitas anti-apartheid saat sahabatnya, Bettie du Toit, ditangkap pada 1960. Ia kemudian bersahabat dengan para pengacara Nelson Mandela, Bram Fischer dan George Bizos, saat pemimpin kulit hitam itu diadili pada 1962. Ketika Mandela dibebaskan dari penjara pada 1990, Gordimer termasuk salah seorang yang ingin Mandela temui. (http://www.kirjasto.sci.fi/gordimer.htm)

Analisis Karya

Salah satu karya yang berbentuk novel yang juga terkenal ialah The Late Bourgeois World (1966). Pada permulaan Novel ini, dikisahkan bahwa seorang wanita mendapatkan sebuah telegram yang isinya tentang bunuh diri seorang laki-laki, yang ternyata dia adalah mantan suaminya, yang bernama Max. Setelah itu, dia berencana menceritakan hal tersebut kepada anaknya yang sedang menuntuk ilmu di sebuah sekolah di luar kota, karena dia tidak ingin anaknya mengetahui hal tersebut dari pemberitaan.

Graham Mill, lelaki yang saat ini dekat denga wanita tersebut menawarkan diri untuk mengantarnya pergi mengunjungi anaknya, yang dipanggil Bobo, untuk mengabari tentang berita ini. Akan tetapi dia menolaknya karena merasa akan lebih nyaman bila ia pergi sendiri. Dia hanya menyuruhnya untuk membelikan bunga dan mengirimnya ke neneknya yang ulang tahun.

Ia pun memutuskan untuk pergi sendiri. Sesampainya disana, dia merasa sedikit agak kaget ketika kepala sekolahnya memanggil anaknya dengan panggilan Bruce Van Den Sandt, karena nama tersebut adalah nama mantan suaminya yang mati bunuh diri itu. Dia selalu merasa senang bila mendengar nama itu. Singkat kata, setelah bertemu anaknya, dia pun menceritakan akan hal telegram tersebut kepadanya.

Secara umum, novel ini bercerita tentang latar belakang kehidupan Bobo yang dalam hal ini tidak terlepas dari kehidupan kedua orangtuanya yang bercerai dan terlibat perkara politik sehingga ayahnya dipenjarakan dan akhirnya bunuh diri. Hal ini sesuai dengan kuitpan-kutipan dari novel ini sebagai berikut:

“He knew the circumstances of Bobo’s background; divorce, political imprisonment and now  this.”

Kutipan di atas ialah kata-kata wanita (ibunya Bobo) tentang latar belakang kehidupan Bobo dan juga kehidupannya sendiri. Dalam kutipan lain juga dinyatakan tentang kisah  Max dipenjara:

“He said with a rough sigh, “we have had a lot of trouble through politics, haven’t we”

“well, we can’t really blame this on politics. I mean, Max suffered a lot of his political views, but I suppose this- what he did now is a direct result of something political. I mean, Max was in a mess, he somehow couldn’t deal with what happened to him, largely, yes, because of his political actions, but also because….in general, he wasn’t equal to the demands he….he took upon himself.”

Apa yang dilakukan oleh Max sehingga ia dipenjara ialah demi memperjuangkan kebebasan orang-orang kulit hitam yang memang pada saat itu sangat dibeda-bedakan (terjadi rasisme dan slavery). Berikut kutipannya:

“Max wasn’t anybody’s hero; and yet, who knows? When he made his poor little bomb it was to help blow the blacks free; and when he turned State witness the whites, I suppose, might have taken it as justification for claiming him their own man. He may have been just the sort of hero we should expect.”

Ada pendapat juga yang mengatakan bahwa karakter Liz Van Den Sandt (Max) dalam novel ini adalah wujud dari sikap kesadaran Gordimer sendiri akan tekanan dan masalah-masalah dalam kehidupannya di Afrika. Memang pada saat itu di Afrika Selatan sedang berlangsung pemerintahan apartheid. Akan tetapi, dalam novel ini ia menggambarkan kecerobohan orang yang anti-apartheid dalam melakukan perlawanannya terhadap pemerintahan pada saat itu, sehingga membuatnya dipenjara dan akhirnya bunuh diri karena tertekan.

 

 

 

 

 

Daftar Pustaka

 

http://www.postcolonialweb.org/caribbean/history/whyhis.html (diakses pada 8 Juni 2012)

http://www.kirjasto.sci.fi/gordimer.htm (diakses pada 7 Juni 2012)

http://www.thefreedictionary.com/West+Indies (diakses pada 7 Juni 2012)

http://en.wikipedia.org/wiki/Caribbean (diakses pada 7 Juni 2012)

http://www.postcolonialweb.org/poldiscourse/ashcroft3a.html (diakses pada 7 Juni 2012)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: