MINE

Carok, Antara Tradisi dan Kriminalitas

In Artikel on 7 Oktober 2012 at 05:05

Akhir-akhir ini, bangsa Indonesia dihebohkan dengan pemberitaan kasus kekerasan dan pelanggaran HAM (Hak Asasi Manusia) yang terjadi di Mesuji, Lampung. Sekitar kurang lebih 30 orang tewas dalam kurun waktu 2009-2011, yang disebabkan oleh perebutan lahan kelapa sawit. Sungguh suatu pristiwa yang sangat miris, karena baru terungkap di akhir tahun 2011 ini. Hal ini menjadi indikasi kurangnya pemerintah kita dalam memberikan pengawasan terhadap sumber-sumber konflik yang mungkin terjadi di masyarakat.

Sebenarnya banyak sekali kasus kekerasan pelanggaran HAM, baik yang berujung kematian ataupun tidak, baik yang bersifat massal ataupun individu yang menonjol dan sudah ada sejak dulu. Akan tetapi hal ini kurang sekali perhatiannya dari pemerintah, sampai-sampai hal itu sudah “dianggap” sebagai suatu “budaya” dari suatu golongan tertentu. Diantara kasus tersebut ialah Carok.

Carok? Mungkin sebuah kata asing bagi sebagian kita, terutama yang belum pernah keep in touch dengan wilayah Madura khusunya, dan Timur Jawa secara umum. Sebagai seorang yang pernah tinggal sekitar 5 tahun di wilayah Timur Jawa, tepatnya di Madura, penulis sudah sering mendengar istilah Carok ini. Menurut informasi yang penulis dengar, Carok selalu dilakukan oleh sesama laki-laki dalam lingkungan orang-orang desa. Setiap kali terjadi Carok, hampir semua orang yang mendengarnya pasti memperbincangkannya. Uniknya, mereka (orang Madura) tidak pernah menyebut istilah pembunuh bagi pelaku Carok yang mampu membinasakan lawannya. Bahkan, mereka tidak pernah mengecam atau mengutuk pelakunya.

Hal ini sangat berbeda jika dibandingkan dengan suatu peristiwa pembunuhan yang dilakukan oleh seorang suami terhadap istrinya yang terjadi disuatu desa dalam wilayah kecamatan kota Sumenep (salah satu kabupaten di pulau Madura) sekitar awal tahun 1960-an. Semua penduduk di desa tersebut menyebut suami itu sebagai pembunuh kejam dan tidak berprikemanusiaan. Berdasarkan kasus di atas, jelas sekali bahwa tidak semua pembunuhan yang terjadi di Madura dapat di sebut carok. (Wiyata, 2006: 1-2)

Sebelum dibahas lebih lanjut lagi, ada baiknya kita mengetahui terlebih dahulu pengertian dari Carok itu sendiri. Dari peristiwa diatas, dapat ditarik pengertian bahwa carok itu ialah suatu tindakan atau upaya pembunuhan (karena adakalanya berupa penganiayaan berat) menggunakan senjata tajam, pada umumnya celurit, yang dilakukan oleh orang laki-laki (tidak pernah perempuan) terhadap laki-laki lain yang dianggap telah melakukan pelecehan terhadap harga diri, baik secara individu sebagai suami maupun secara kolektif yang mencakup kerabat atau keluarga, terutama berkaitan dengan masalah kehormatan istri sehingga membuat malo (malu).

Dalam bahasa Madura, selain kata malo, terdapat juga kata todus, yang dalam bahasa Indonesia kedua-duanya diterjemahkan sebagai malu. Tetapi dalam konteks kehidupan social budaya Madura, keduanya memiliki pengertian yang berbeda. Todus lebih merupakan suatu ungkapan keengganan (tidak ada kemauan) untuk melakukan sesuatu, karena adanya berbagai kendala yang bersifat social budaya. Contohnya ialah kebiasaan yang berlaku di Madura, dimana seorang manantu tidak boleh menatap wajah mertuanya secara langsung ketika sedang berbicara, dan apabila tidak sengaja melanggarnya, maka dia akan merasa todus. Jadi todus itu muncul dalam diri seseorang sebagai akibat dari tindakan dirinya sendiri yang menyimpang dari aturan-aturan normative. Sedangkan malo muncul sebagai akibat dari perlakuan orang lain yang mengingkari atau tidak mengakui kapasitas dirinya, sehingga yang bersangkutan merasa menjadi terhina.

Pada dasarnya, semua kasus carok diawali oleh konflik. Meskipun konflik tersebut dilatarbelakangi oleh permasalahan berbeda, diantara konflik-konflik tersebut biasanya berhubungan dengan permasalahan perempuan, tuduhan mencuri, perebutan warisan dan pembalasan dendam. Keseluruhan hal ini mengacu kepada akar yang sama, yaitu perasaan malo (malu) karena pelecehan harga diri (martabat).

Dalam realitas sosial kehidupan Madura, tindakan mengganggu istri orang atau perselingkuhan merupakan bentuk pelecehan harga diri paling menyakitkan bagi laki-laki orang Madura, dan biasanya tidak ada cara untuk menebusnya kecuali dengan membunuh (Carok) orang yang mengganggunya. Kaitannya dengan ini, seorang penyair Madura, Imron (Dalam Wiyata, 2006: 173), menemukan ungkapan yang berbunyi, “saya kawin dinikahkan oleh penghulu, disaksikan oleh orang banyak, serta dengan memenuhi peraturan agama. Maka siapa saja yang mengganggu istri saya, berarti menghina agama saya sekaligus menginjak-injak kepala saya.” Dari ungkapan ini sudah jelas, bahwa martabat dan kehormatan istri merupakan manifestasi dari martabat dan kehormatan suami, karena istri adalah landasan kematian. (Wiyata, 2006: 170-174)

Jika dicermati lebih dalam lagi dari apa yang dipaparkan di atas, pada dasarnya mengandung makna bagaimana orang Madura memandang institusi perkawinan, secara  khusus, dan bentuk pelecehan harga diri yang lain secara umum, sebagai bentuk maskulinitas. Orang Madura memandang institusi perkawinan sebagai manifestasi kelaki-lakian (maskulinitas). Maksudnya, seorang laki-laki baru akan menemukan dirinya sebagai seorang laki-laki apabila telah menikah.

Dalam konteks ini, maskulinitas semakin dipertaruhkan lagi bilamana terjadi tindakan gangguan terhadap istri mereka, karena hal itu dianggap sebagai pelecehan harga diri yang sangat menyakiti hati seorang laki-laki (suami). Sehingga hal ini biasanya menjadi salah satu pemicu terjadinya Carok. Ada sebuah ungkapan Madura yang berbunyi, “Lokana daghing bisa ejhai’, lokana ate tada tambhana kajhabana ngero dara,” yang memiliki arti, “Daging yang terluka masih bisa dijahit, namun jika hati yang terluka tidak ada obatnya, kecuali minum darah.”

Carok, selain sebagai sebuah manifestasi dari maskulinitas, bentuk kekerasan ini juga seringkali sebagai manifestasi dari identitas (identity), khususnya menyangkut kolektifitas (Collectivism). Hal ini bisa dilihat dari kasus-kasus carok yang terjadi, yang tidak hanya berlangsung antara individu dengan individu lain, akan tetapi bisa saja antara satu keluarga dengan keluarga lain, atau pun suatu kelompok dengan kelompok lain. Contoh kasus yang pernah terjadi ialah seperti yang terjadi di kabupaten Pamekasan, pada permulaan Mei 2007. Seperti yang diberitakan Baidowi dalam Koran Harian Seputar Indonesia (Sindo), saat itu Terjadi carok massal di Desa Bujur Tengah antara pendukung Kepala Desa H. Mursyidin dengan mantan Kepala Desa, H. Beidewi. Carok massal tersebut dipicu sengketa tanah kas desa, dan kejadian tersebut memakan korban 7 orang tewas dan 9 luka-luka.

Dilihat dari contoh kasus di atas, orang Madura memiliki tingkat kolektifitas, ataupun kesetiakawanan yang tinggi, sehingga mereka tidak lagi memandang tindakan mana yang benar dan mana yang melanggar hukum. Akibatnya, dalam hal kejelekan dan kejahatan pun mereka masih menjungjung tinggi kolektifitas dan solidaritas mereka.

Seperti yang diuraikan di bagian awal dari esai ini, bahwa Carok sering terjadi di pedesaan sangat lah beralasan, karena kebanyakan yang tinggal di daerah pedesaan memiliki tingkat pendidikan yang rendah, di tambah lagi budaya orang Madura yang keras, dan tidak mudah menerima budaya baru, dengan kata lain hal ini termasuk pada Weak Uncertainty Avoidance. Walaupun begitu, bukan berarti orang Madura tidak ramah terhadap pendatang baru. Mereka sangat ramah terhadap pendatang, selama tidak terjadi hal-hal yang dapat menyingung mereka. Akan tetapi sedikit saja mereka merasa tersinggung, maka bisa saja berujung pada Carok.

Selain itu juga, orang Madura bisa dikatakan, terutama yang tinggal di daerah pedesaan, memiliki pandangan short-term orientation. Hal ini bisa di lihat dari tingkat pendidikan mereka yang rendah dan juga cara hidup mereka yang tidak “melihat ke depan” atau dalam kata lain tidak futuristik. Bagi kebanyakan masyarakat Madura yang tinggal di pedesaan, seorang anak belajar sampai tingkat sekolah menengah atas sudah cukup, apalagi ditambah dengan belajar ilmu agama.

Dalam konteks legalitas hukum formal, Carok tentu saja melanggar aturan-aturan yang telah ditetapkan dalam KUHP (kitab undang-undang hukum pidana), sehingga pelakunya pun harus menjalani sanksi hukuman penjara selama bertahun-tahun sebagai pelaku tindakan kriminal berat. Sehingga bisa dikatakan bahwa Carok adalah manifestasi dari keberanian pelakunya dalam melanggar hokum.

Carok dilakukan sebagai sebuah solusi dari pemecahan sebuah masalah, dalam hal ini yang berkaitan dengan pelecehan harga diri, yang menimpa orang Madura. Sehingga tidak berlebihan jika Carok dikatakan sebagai institusionalisasi kekerasan dalam masyarakat Madura yang memiliki relasi yang sangat kuat dengan faktor-faktor struktur budaya, social, kondisi ekonomi, agama dan pendidikan.

Carok juga tidak dapat dilepaskan dari unsur politik, dalam hal ini kurangnya pengawasan dari pemerintah terhadap sumber-sumber kekerasan, dan ketidakmampuan memberikan perlindungan terhadap masyarakan akan rasa keadilan dan keamanan. Andai saja pemerintah mampu memberikan pengawasan dan penegakan hukum dengan baik, tanpa ada unsur “pilih kasih”, besar kemungkinan Carok tidak akan pernah terjadi, karena masyarakat Madura, khususnya pelaku Carok, akan memiliki tingkat kepercayaan yang tinggi kepada pemerintah dalam meyelesaikan permasalahan yang mereka hadapi, termasuk juga dalam kasus-kasus pelecehan harga diri.

Selain sebagai sebuah solusi dari suatu permasalahan (tindakan balas dendam), Carok juga oleh sebagian pelakunya dipandang sebagai alat untuk meraih posisi atau status sosial yang lebih tinggi, seperti ingin mendapatkan predikat orang jago di komunitasnya. Bahkan, dengan posisi dan status sosial ini, mereka dapat pula meraih kedudukan formal dalam lingkungan pemerintahan atau birokrasi, seperti menjadi kepala desa.

Untuk menanggulangi agar Carok tidak menjadi hal yang semakin lumrah di kalangan orang Madura, pemerintah memiliki peranan yang sangat penting. Dalam hal ini, pemerintah harus meningkatkan pengawasan terhadap setiap sumber atau perkara yang akan menimbulkan kekerasan. Hal ini akan berdampak kepada tingkat rasa keamanan dan keadilan dalam diri masyarakat Madura, sehingga mereka tidak lagi menjadikan Carok sebagai solusi untuk menyelesaikan permasalahan yang mereka hadapi. Karena tidak dapat dipungkiri, lemahnya pengawasan dan ketegasan pemerintah terhadap konflik kekerasan yang terjadi dapat menjadi salah satu penyebab terjadinya Carok.

Mengadakan penyuluhan akan pentingnya bermusyawarah dalam menyelesaikan suatu permasalahan, ataupun kegiatan semacam itu sangatlah penting, sekedar upaya untuk menyadarkan masyarakat Madura, khususnya yang tinggal di kawasan pedesaan yang merupakan wilayah rawan terjadinya konflik yang dapat berujung Carok, akan dampak negatif dari Carok (penyelesaian masalah dengan kekerasan). Dengan demikian, kemungkinan tercapainya rekonsiliasi atau perdamaian dalam menyelesaikan konflik yang terjadi semakin besar. Hal ini akan semakin terbuka dan efektif, jika ada fasilitator atau mediator, baik itu dari institusi pemerintahan, ataupun seorang figur. Seperti halnya figuritas seorang kiai dalam realitas sosial budaya Madura merupakan seorang yang selalu menjadi panutan.

Referensi:

A.L. Wiyata. 2006. Carok, Konflik Kekerasan dan Harga Diri Orang Madura. Yogyakarta: PT LKiS Pelangi Aksara.

Baidowi, Ahmad. 2007. Inilah Kasus Carok Massal Terheboh di Pamekasan Madura. http://news.okezone.com/. Diakses tanggal 18 Desember 2011.

 

 

 

  1. Hanya satu hal yg dpt di terima dgn akal sehat terjadinya carok yaitu istri di ganggu oleh lelaki lain. Namun meskipun demikian penyelesaian masaalah dgn cara kekerasan {carok} tsb, masih tetap kriminalitas namanya dan patut mendapatkan hukuman. Budaya carok di kalangan orang2 madura, bahkan bergeser bukan karena membelah harga diri sj, tetapi ada kalanya hanya ketersinggungan yg sipatnya sepeleh berakhir dgn carok, contoh kasus HP, anak di tegur sm keluarga yg lain berakhir dgn carok. Dari sisi lain kalo kita melihat carok ini, lebih terhadap emosi yg tdk terkendali dan tidak memperhitungkan masa depan dia, keluarga, istri maupun anak2nya. Contoh ketika 2 org lelaki berkeluarga terlibat adu carok, yg satu meninggal, dan satu cacat seumur hidup katakanlah tangan yg satunya putus. Bisa kita bayangkan, keluarga yg di tinggal org yg tewas dlm carok {istri dan anak2nya} bagaimna dgn kelanjutan untuk menyambung hidupnya, pasti akan lebih susah. Bgitupun jg dgn lawan caroknya, meskipun hidup tapi sudah cacat seumur hidupnya, jelas tingkat produktipitas akan turun, belum lg beberapa tahun di penjara mempertanggung jawabkan aksi carok mereka. Untuk itu orang2 madura harus mencari, penyelesaian masalah yg lebih arip dan bijaksana, jgnlah seperti ayam yg di adu dan di tonton orang. Kekerasan tdk menyelesaikan masaalah, bahkan menambah masalah, damai itu indah saudaraku.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: