MINE

Good News But It’s Going To Be A Bed News Too

In Diary on 15 Februari 2011 at 00:37


“boy, you will be in Jakarta for eight months”

“what did you mean? I really do not understand what you said”I replied.

“your institution is in the Qalam magazine, and it’s office is in Jakarta”

“is that so? I have heard that my place is in Lombok,where is the right one?”

“this is the latest  news, I have heard it from the teacher just now, if you do not believe me, you can chack it out!”

Percakapan inilah awal mula dari semua “bencana” yang terus-menerus menimpaku. Tahukah kawan mengapa aku mengatakan bencana, tentunya ada alasan tersendiri dibaliknya. Nanti pasti aku ceritakan lebih jelasnya.

“I really do not understand, bingung banget gue. Pengennya di Lombok, tapi ternyata Tuhan berkehendak lain” gumamku pada teman-teman di kamar.

“Syukuri saja, tidak usah lah kau memikirkannya. Mungkin kau akan menemukan hal yang tak akan kau temukan di Lombok” kata Iqbal dengan gaya sedikit orang batak, tapi lebih kedengaran lucu, karena dia dari tanggerang yang notabene seorang betawi semi tulen.

“Aku ngerti, tapi tak usahlah kau berlagak kayak orang batak gitu, tak pantas sekali kau ngomong seperti itu.” Ejekku padanya sedikit menirukan gayanya.

Sore semakin larut, matahari sudah bosan menemani hari, sudah saatnya dia bersembunyi di ufuk barat sana. Aku masih ragu dengan informasi yang aku dapatkan sore tadi. Seperti yang au pernah pelajari dalam ushul fiqh, yang namanya keraguan itu pasti antara dua hal atau lebih. Aku ragu apakah berita ini benar atau sekedar kabar burung. Yang pasti saat ini aku harus segera berburu Biro Alumni, meminta klarifkasi kebenaran berita ini.

Sehabis shalat maghrib, aku langsung meluncur menuju kantor biro alumni. Ternyata udah ada beberapa orang yang stand by disana, tentunya meminta klarifikasi kebenaran tempat pengabdian mereka masing-masing.

“Ngapai lo disini” tanyaku pada Ari.

“Sama kaya lo, gue bingung, masa gue mau mengabdi di tempat yang very far from my hometown” jawabnya bersungut-sungut.

“yah, nerimolah. Kalau gag mau mah gak usah, tinggal pulang saja ke surabaya, selesai masalah” jawabku sekenanya.

“terus gue gak dapet ijazah gitu? Ogah gue mah, ngapain gue susah payah selama 4 tahun bertahan disini kalau gue gak ngegondol ijazah pas pulang nanti. Apa kata dunia kalau gue gak dapet ijazah al-amien, piye toh koen?” jawabnya sedikit serius.

“ustadz, qila annani muntaqil ila Qalam fi Jakarta, a hadzal khobar shohih?” tanyaku pada seorang staf biro  Alumni yang baru saja datang, dengan bahasa arab yang terbata-bata coz sedikit dipaksakan bisa.

“na’am, hadza shohih” jawabnya singkat dengan senyum yang tak dapat kumengerti artinya.

“almurad, fi ma’hadi Darul Qalam?” tanyaku lagi.

“la, walakin fi majallati Qalam, ‘arofta, anna majallata Qalam qad intaqolat diwanaha ila Jakarta?” jawabnya sambil balik bertanya.

“ saya tau, tapi gak percaya saja, aku kan gak punya besic dijurnalistik,kalau boleh tau, siapa actor behind the stage yang milih aku?”

“ustadz Hamzah arsya, jarrib isal ilaih!”

“ma’a man ana hunak ya ustadz?”

“ma’a Nanang Abdul Mannan”jawabnya sambil mengakhiri percakapan kami.

“Nanang Am, oh my God!” gumamku dalam hati sebagai ungkapa betapa kagetnya aku. Kaget, karena beberapa bulan terakhir ini, dia gak pernah bertegur-sapa padaku.

 

Lawan Jadi Teman

Nanang A.M De Bolango, anak seorang dosen agama di sebuah Perguruan Tinggi di Cirebon. Berwajah sedikit cubby dan imut, lebih tepatnya lagi culun. Tapi wajahnya seperti orang yang innocent, sedikit tambun dengan rambut agak stright ke atas (anak punk gag jadi). seorang perokok yang di “berat-beratin”, barangkali demi mengejar gelar eksis, walaupun hasilnya tentu bisa ditebak, lebay.

itulah nama yang dia deklarasikan setelah beberapa kali “hilang”, sekaligus kehilangan. “hilang”, kebiasaan dia yang suka pergi tanpa ngasih kabar. “kehilangan”, karena hampir tiap trip mengalami kehilangan.

Rasa kaget yang muncul ketika aku dengar dia akan jadi teman pengabdianku, memang cukup beralasan. Sejak dari awal tahun aku duduk di kelas 3 MA, dia gak pernah menyapaku. Alasannya cukup “spele”, aku “merebut” ceweknya.

Persaingan “Sehat”

Oktober 2008

Liburan akhir tahun kali ini terasa sangat singkat. Bagaimana tidak, bagi aku yang saat itu masih duduk di kelas 2 MA, baru boleh pulang  5 hari sebelum hari raya iedul fitri, dan 5 hari setelahnya harus sudah ada di “penjara suci” lagi.

Pada mulanya aku berencana gak mau mudik, karena waktu 10 hari + harga tiket bis yang cenderung naik drastis, karena musim “marema”. Akan tetapi kematian kakekku merubah semuanya, kedua orangtuaku memaksa tuk pulang, “pulang saja, biar bisa nyekar langsung ke makam kakek” pinta orangtuaku sedikit memaksa.

Sebagai anak yang baik dan memang harus dibaik-baikin, aku turuti saja keinginan mereka. Toh yang memberiku ongkos pulang juga mereka, aku hanya tinggal booking tiket dan duduk manis di jok/kursi bis.

Dua hari sebelum rencana kepulanganku tiba, pimpinan Pondok pesantren al-amien prenduan, KH. Moh. Idris Djauhari memanggilku ke kediamannya. Aku kagt sekali waktu itu, ada hal sepenting apa yang membuatnya memanggilku untuk menghadap langsung beliau. Dengan berbagai pertanyaan dalam hati yang belum terpecahkan, aku menghadap beliau. Ternyaata eh ternyata beliau bertanya mengenai rencana kepulanganku ke sukabumi.

“ismuka Jalaluddien sayuti?”

“na’am ustadz.”

“anta min Sukabumi na’am, saya dengar kamu mau pulang ke Sukabumi?”

“betul pak kiayi.”

“sudah memesan tiket”

“Alhamdulillah sudah.”

“begini akhi, keponakan saya Hisyam mau pulang ke Jakarta, tapi dia tidak ada teman. Kemarin saya Tanya-tanya ke ustadz-ustadz siapa saja yang mau pulang pake bis, ternyata mereka bilang kamu. Saya khawatir kalau dia harus pake kreta, kamu tau sendirikan kalau musim mudik gini pasti penuh, apalagi kreta. Nah maksud saya manggil kamu kesini untuk menemani dia pulang sekalian saya minta tolong booking-in tiket buat dia, masih bisa kan?”

“insyaAllah bisa pak kiayi”

“ya sudah, kalau begitu besok kamu langsung berangkat, biar saya yang ijinin kamu ke kepala madrasah aliyah kalau kamu pulang duluan,”

“baik pak kiayi.”

Ternyata sebuah kabar gembira yang aku dapat, aku bisa pulang satu hari sebelum waktu liburan berlaku, dan yang lebih sepecial lagi, yang ngijininnya langsung oleh pimpinan Pondok. Sebuah kehormatan bagiku yang apalah artinya dibanding kedudukan dan keluasan ilmu yang beliau punya. Dilain sisi, aku juga tidak akan kesepian di bis, karena sekarang bertambah lagi satu orang yang mau pulang bareng, setelah sebelumnya ada Nanang D’blongo. Jadinya aku pulang bertiga.

The next day, jam sembilan pagi aku dan konco-konco anyarku udah siap untuk cabut. Karena aku memesan tiketnya di terminal Pamekasan, so mau tidak mau aku harus naik bisnya juga dari sana.

“udah ayo kita langsung go saja, gag usah lama-lama gini, nanti gag dapet lagi tiketnya,”usul nanang padaku.

“iya bener, lo enak udah dapet tiket, kita berdua belom. Kalau nanti habis gimana?bisa pisah donk kita.”hisyam nimpalin.

“ok lah kalau begito, mari kita let’s go,”kataku setuju.

Tidak cukup uang dua ribu rupaih untuk sampai ke pamekasan, karena jarak dari pondok kesana sekitar 30 km. terombang-ambing di dalam angkutan yang orang Madura sendiri menyebutnya Taxi. Nama yang menurutku tidak sesuai dengan tingkat kenyamanan menumpanginya. Anehnya lagi taxi ini bukan seperti taxi pada umumnya. Kalau di kota-kota lain yang namanya taxi berupa mobil sedan, disini absolutly different. Taxi disini mobil Elf, yang ukurnnya ¼ bis. Makanya aku heran sekali pas pertama kali mendengar nama ini, janggal. Tapi itulah perbedaan, begitu indah.

“lo berdua tungguin saja disana, biar gue yang masuk,” pintaku pada kedua temanku sambil menunjuk ke ruang tunggu bis.

Aku masuk ruangan agen bis Lorena-Karina, ruangannya cukup sempit, hanya ada tiga tempat duduk buat pemesan, satu timbangan barang dan sisanya alat pelengkap agency pada umumnya.

“selamat siang dengan agen tiket lorena-karina, ada yang bisa kami bantu” sapaan yang sudah tidak asing lagi di telinga kita, karena hampir semua agen, entah itu bis, kapal laut, pesawat terbang dan lain sebagainya menggunakan kalimat awalan seperti itu.

“booking tiket ke cirebon satu, jakarta satu dan bogor satu. Kalau bisa disatu bis-kan, gimana?” tanyaku.

“ouh bisa, anda mau bis terusan dari sumenep atau langsung dari sini? Berangkatnya berbarengan kok.” Tanya mas-mas yang agak tambun.

“yang dari sini saja, biar dapet tempat duduk agak depan,”

“ok, no bis anda 557, anda dapat no kursi 6A 6B 7C.” jawabnya.

“harganya berapa mas?”

“Cirebon Rp. 150.000, Jakarta Rp. 180.000 dan Bogor Rp. 200.000. total semuanya Rp. 530.000” ungkapnya bersemangat. Biasa, kalau berhubungan dengan penerimaan duit, semua orang pasti senang.

“dipasin saja 500 mas, akukan sering menggunakan armada sampeyan, bagaimana?”rayuku.

“ok tidak apa-apa, tapi awas jangan bilang-bilang penumpang lain.”

“siipp”

Setelah menyelesaikan pembayaran, aku langsung go out menemui konco-koncoku. Mereka sedang asik bercengkrama satu-sama lain, “ah, memang mereka udah saling akrab dari dulu,” gumamku dalam hati, melihat keakraban mereka berdua yang memang sudah saling mengenal sejak lama, sekitar 4-5 tahun-an. Sedangkan aku baru mengenal mereka 2 tahun belakangan, itupun gak terlalu akrab, karena memang beda kelas. “mudah-mudahan saja aku bisa cepat akrab” lirihku dalam hati.

“ini tiket kalian, harganya tertera di dalam,” kataku sambil melemparkan dua lembar tiket.

“wah murah banget lal, gak salah ni?padahal sekarang musim liburan, kan bentar lagi lebaran.”tanya hisyam penuh keheranan.

“beneran ko, lagian yang mudik bukan dari Madura ke Jakarta, tapi dari Jakarta ke Madura. Makanya dari Madura ke Jakarta harga tiket murah, soalnya jarang penumpang.”jelasku mencoba menghapus keheranan mereka.

“wah…berarti nanti bisnya kosong donk,”

“Ya iya lah, secara kita dapet kursi agak depan gini, padahal keberangkatannya satu jam lagi,” nanang menjawab dengan semangat.

“wah asyik nih, kita bisa tidur-tiduran kalau kosong gini.”Hisyam sumringah.

Itulah enaknya jarang penumpang, bis biasanya pada kosong. Jadinya kita bisa nempatin tempat duduk dimana saja semau kita, mau dua jok sendiri juga tidak jadi masalah. Walaupun sebenarnya penuh juga tetap nyaman ko, coz bisnya bukan sembarang bis, tapi bisnya benar-benar eksekutif, perlengkapannya lengkap banget, dari mulai bantal, selimut, music, film, karaoke, recleaning seat, smooking room and wc, belom lagi dikasih roti, air mineral dan yang lebih specialnya lagi makan gratis satu kali, perasmanan lagi (kalau ngomongin makanan pasti paling semangat).

“eh liat toh, bisnya datang,”kata nanang sambil menunjuk bis lorena yang tampak masuk terminal.

“slow down bro, kite lihat dulu kode bisnya. Takutnya salah, siapa tau z bis yang dari Sumenep.”sergahku.

Bis mendekat dan berhenti tepat depan kantor agen, seorang pria dengan pakaian lengkap khas karyawan bis Lorena turun dari membawa beberapa kertas.  Ternyata benar bis dari Sumenep.

“tuh-kan benar, kataku juga ape, ini mah bis yang dari Sumenep, kodenya itu loh sing beda.”kataku sambil menunjuk ke kode bis yang terpang-pang di kaca depan.

“ya bener ya, masih lama gak ya bis kita. Udah gak sabar ni pengen cepet-cepet berangkat” gumam Lora.

“eh coba lihat ke atas deh, kayanya gue kenal deh tuh cewek, kaya anak muallimat gitu”kata Nanang agak ragu.

“yang bener saja lo, nanti salah lagi” kata Lora menambah keraguannya.

“ah lagian kalu benar anak muallimat juga buat apa, aku gak kenal mereka” kataku sedikit acuh.

“ya siapa tau saja lo mau kenalan sama mereka”Nanang membela diri.

Akhirnya bis lorena itupun berangkat dari terminal Pamekasan, meninggalkan pertanyaan di dalam hati kita masing-masing, apakan benar yang tadi itu anak muallimat?. aku juga heran tiba-tiba aku jadi kepikiran setelah aku melihat wajah salah satu dari mereka, “Perasaan pernah lihat deh” gumamku dalam hati ketika mataku bertemu dengan matanya.

“itu tuh ada lagi yang datang, sepertinya ini bisnya” suara Nanang mengagetkanku.

Bis itupun berhenti tepat di depan kantor Agency. Kondekturnya turun diikuti oleh beberapa orang penumpang, ternyata bisnya baru nyampe dari Jakarta. Setelah semua penumpang turun, bbis tersebut melaju ke arah tempat pembersihan. Tampak dari jauh, seorang laki-laki paruh baya membersihkan bis.

Tiga puluh menit berlalu, Bis itupun sudah kembali nongkrong di depan Agency. Sedikit terlihat lebih bersih dari sebelumnya, walaupun tetap tidak dapat menutupi usia tuanya.

“duh, kayanya bisnya dah “butut” nih”gumamku pada yang lain.

“iya nih, awan nanti di tengah jalan mogok lagi, bisa “brabe” Lora nimpalin.

“Diumumkan kepada seluruh penumpang Bis Karina dengan kode 557 tujuan Pamekasan-Jakarta akan segera diberangkatkan, kepada seluruh penumpang yang masih ada di luar, diharapkan untuk segera naik dan menempati tempat duduk masing-masing. Untuk perhatiannya kami ucapkan terima kasih” suara laki-laki yang tadi melayaniku membeli tiket terdengan dari speaker. Kamipun mengangkat barang-barang kami dan memasukannya ke bagasi.

“lo di sini Ra sama gue” kata Nanang.

“Yah, gue sendirian nih” protesku.

“Gak apa-apalah, jadi bisa tidur-tiduran lo” Lora mencoba menghibur.

“Bismillahirrohmanirrahiem, semoga selamat sampai tujuan” Lora memimpin do’a.

Bispun mulai merayap, meninggalkan terminal Pamekasan yang terasa legih panas dari biasanya siang itu. Tapi setelah naik bis, panasnya berubah 360 derajat. Penyebabnya AC bisnya bocor, jadi gak bisa dikecilin. Tidak lama kemudian kondekturnya berdiri dan membagikan kotak makanan ringan seperti biasa, sepotong roti ditambah air mineral dan 2 buah permen.

Bis melaju dengan kecepatan yang sedikit diatas rata-rata. Pemandangan rumah-rumah khas Madura tampak jelas dari kaca. Kebun jagung, tembakau, buah naga ataupun hiruk pikuknya pasar siang-pun tak terlewat dari tatapanku. “unik” gumamku dalam hati. Ya, Madura memang unik sekali, membuat semua orang merasa tertarik, tertantang dan terpesona dengan keunikannya, termasuk juga aku.

Keasyikan dengan pemandangan indah yang disajikan Tuhan, tidak terasa bis sudah masuk ke kabupaten Sampang. Kabupaten yang terkenal dengan hasil lautnya itu terasa libih panas dari kabupater-kabupaten lain yang ada di kepulauan Madura. Kedua temanku sudah terlelap tidur dari tadi, sementara aku masih sibuk menikmati gersangnya Madura dari dalam bis, walaupun sebenarnya aku juga sudah mulai ngantuk. Tak lama kemudian akupun tertidur juga.

“eh bangun lo, mau lihat senja dari ferry gak?” suara berat nanang mengagetkanku, akupun terbangun.

Senja sore itu begitu menawan, cahaya kemerah-merahan tampak jelas di atas langit. Suara kapal Ferry perlahan terdengar meninggi ketika aku dan teman-temanku sampai di lantai 3.

“mana ya anak yang tadi?”gumam nanang sambil celingak-celinguk mencari ke tiga sosok hawa yang dia ceritakan kepadaku tadi.

“ah lo mah cewek mulu nang”kataku sambil tersenyum.

“gue mah normal bukan kaya lo ACDC” balasnya sambil nyengir.

“yee sembarangan z lo.”kataku agak kesel.

Perlahan tapi pasti kapal ferry yang kami tumpangi mengarah ke Pelabuhan Tanjung Perak, itu tandanya kami harus segera kembali masuk bis. Kamipun memutuskan untuk turun dan kembali ke Bis.

Senja masih setia menemani kami, ketika bis yang kami tumpangi perlahan memasuki daerah kumuh kota Surabaya. Tidak heran, karena memang ini memang daerah pelabuhan. Truk-truk serta fuso hilir mudik menuju kawasan peti kemas terbesar di jawa timur ini, meraka membawa barang-barang yang akan diekspor maupun barang imporan dari Negara lain.

Kedua temanku sedang asyik mengobrol, entah apa yang mereka bicarain. Sedangkan aku hanya menatap keluar jendela, debu-debu tebal memenuhi dedaunan pohon di kiri dan kanan jalan sepanjang yang aku lewati. Tak berapa lama bis pun memasuki pintu tol Gempol (kalau tidak salah), itu tandanya kecepatan laju bis akan segera bertambah. Jujur, aku bosan dengan kecepatannya bis yang kami tumpangi, walaupun sebenarnya sudah jadi kebiasaan memang, baru nanti tengah malam biasanya agak ngebut.

Kecepatan laju bis yang semakin bertambah, ditambah lagi jalanan yang lomayan mulus (rata) serta diiringi music kenangan yang mengalun syahdu, membuat rasa kantukku kembali menghampiri. Tak dapat dielakan lagi akupun terperangkap dalam lingkarannya, tidur pulas!

Sayup-sayup suara deburan ombak yang menghantam pesisiran pantai Tuban sedikit menyadarkanku dari tidur, selain memang panggilan alam, perut keroncongan karena memang aku sedang puasa. Ternyata kedua temanku tidak tidur, mereka masih asyik dengan obrolannya.

Sekitar pukul 18.30 bis merapat di rumah makan yang sudah bisa, masih di daerah Tuban. Memang setiap Bis Karina/Lorena yang tujuannya Bogor/Jakarta kea rah Timur pasti berhenti disini, entah itu berangkatnya ataupun sebaliknya. Dan bagi kami adalah saatnya makan malam gratis, karena memang setiap penumpang diberi 1 tiket makan gratis.

“ayo cepet turun lal, gue udah laper banget ni” ajak nanang.

“sama gue juga laper banget, ayo”jawabku sambil berdiri meninggalkan jok.

“nah, itu dia bis yang tadi kata gue bawa anak muallimat”kata nanang tiba-tiba ketika melihat bis disebelah kanannya bis yang kami tumpangi.

“bener lo nang, ayo cepet kita shalat dulu, ntar kita cari tuh maruah” timpal Lora.

Kita beringus ke kamar mandi untuk melepaskan “beban alam” yang sejak tadi memaksa keluar, kemudian dilanjutkan dengan berwudlu dan shalat maghrib dan isya dijama’. Karena memang kami sudah belajar shalat sejak kami anak-anak, maka kami pun tak membutuhkan waktu lama untuk itu, coz sudah lihai (ribut teu paruguh).

Setelah selesai shalat, aku langsung menuju tempat penukaran kupon makan. Ketika aku menoleh ke sekitar tempat duduk yang ada di rumah makan tersebut, hamper semuanya terisi. Sejenak aku melihat dari tempat dudukku ada tiga orang perempuan yang juga sedang menyantap makan malamnya, mereka mengenakan pakaian yang sedikit aku kenal. “pasti mereka anak muallimat yang nanang bicarain tadi” gumamaku dalam hati.

“itu tuh anak muallimat yang tadi gue certain, habis makan kita samperin yu ajak ngobrol” kata nanang bersemangat.

“Ternyata benar dugaanku, mereka orangnya. Ogah ah, lo saja berdua sana, gue mah males,”kataku agak jaim, padahal sebenarnya aku gak berani, coz malu.

Karena kami sudah begitu kelaparan, maka percakapan kamipun terhenti. Kami sibuk dengan sendok, garpu dan seluruh isi piring kami masing-masing, sehingga dalam waktu kurang dari lima menit semuanya sudah bersih, andai saja tidak banyak penumpang lain yang sedang makan di sekitar kami, barang kali piring kami sudah begitu mengkilap karena kami jilatin..hehehe…we really hungry at that time.

Kami tutup makan malam sekaligus buka puasa kami dengan buah semangka sebagai makanan penutup, segar sekali!.

“gimana, mau gak tawaran gue barusan?”kata nanang melanjutkan percakapan kami yang sebelumnya sempat terhenti oleh makan.

“ya udah lo saja sana berdua, gue ogah”ucapku masih dengan muka jaim. Sejenak aku melihat ketiga perempuan yang sejak kami bicarakan berlalu keluar ruangan dan masuk ke mushola. Barang kali mereka belum shalat.

“keluar yu, nongkrongnya di luar” ajakku kepada keduanya.

Kami berjalan kearah bis yang kami tumpangi, kami duduk-duduk tepat di depan bis, kebetulan disana ada semacan tembok buat duduk gitu.

“nih rokok, ayo lo harus ngerokok semua, kalau lo memang nganggap gue temen lo” Kataku sedikit memaksa kepada kedua temanku, karena memang waktu itu mereka belum terbiasa merokok. Sedangkan waktu itu aku masih suka merokok. Tiba-tiba saja ketiga perempuan yang tadi, melintas ke belakang bis kami.

“nah itu mereka, ayo kita ajak ngobrol”nanang bersemangat kembali.

“sana lo berdua z, ntar gue nyusul, yanggung lage ngerokok ni.”jawabku sedikit beralasan.

“ah lo mah alesan z, tunjukin dong kalau emang lo pernah Smp di luar, biasanya kalau Smp-nya di luar berani-berani ke ceweknya. Ah lo mah penakut”kata nanang sedikit memmbuatku “panas”.

“enak z lo ngomong, ok gue mau, liatin nih,”kataku mantap sambil kemudian berlalau ke arah ketiga cewek tadi, demi menyelamatkan citra sebagai, “seorang lulusan Smp yang biasanya berani menghadapi cewek”.

 

mataku tiba-tiba tertegun sejenak menatap dua bola mata indah milik seorang perempuan yang duduk bertiga, yang sepertinya bukanlah siapa-siapanya.

 

 

 

 

 

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: