MINE

When I knew “School”

In All about me on 25 Desember 2009 at 04:15

Kindergarten level

Aku bulai kehidupan belajar formalku, dengan memasuki level taman kanak-kanak (TK). Waktu itu di TK Jampang Kulon (kalau sekarang sebelum indomaret, sebelah kanan). Tiap pagi aku dianterin sama tukang ojek (kalau gak salah namanya Mang colen), biasanya kalau berangkat bertiga, bareng sama kerabatku sekaligus best friendku sampai sekarang, Rika Riqotul Qolbi, dan satu lagi aku udah lupa namanya, tapi yang aku ingat dia itu keturunan tionghoa.

Banyak kenangan hinggap dalam kehidupanku pada masa kanak-kanak ini, entah itu yang menyenangkan, menggelikan plus mungkin juga menyedihkan. Sayangnya aku engga bisa nyelesaiin jenjang pendidikan pertamaku ini sampai tuntas, karena pas aku genap satu tahun, aku terkena penyakit paru-paru, so ortu-ku memindahkanku ke sekolah dekat rumahku yang levelnya lebih tinggi Madrasah Ibtidaiyah (MI) Cikarang Sasak.

Elementary School

Aku masuk sekolah dasar (SD), waktu itu Madrasah Ibtidaiyah, ketika usiaku memasuki tahun ke-5. pada mulanya sih cuman ikut-ikutan (dalam bahasa internasionalnya anak bawang), karena selain menjalani perawatan rutin, aku tidak punya kegiatan lain, makanya waktu itu ortu memasukanku ke sekolah dasar. walaupun cuma jadi anak bawang, aku tidak main-main belajar, so waktu akhir tahun, kepala sekolahku (waktu itu Bpk. Pepen Supendi), menaikanku ke kelas yang lebih tinggi, kelas dua.

Selama 6 tahun aku habiskan tuk mengenyam bangku pendidikan di MI tercinta ini, tentunya banyak kenangan yang tidak bisa aku lupakan sampai saat ini. Pastinya, semua itu sangat berpengaruh sekali pada perkembanganku sampai sekarang ini, entah itu dari segi educasional, spiritual ataupun yang lainnya. selama 6 tahun masa pendidikanku di MI ini, alhamdulillah, banyak sekali prestasi yang aku raih, baik dari segi intra maupun ekstra kurikuler, yang tentunya, semua itu atas jasa pahlawan tanpa tanda balas jasa (para guru), ditambah dengan usaha yang aku jalani.

Junior high school

Setelah menyelesaikan pendidikan di tingkat MI, selanjutnya aku lanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi, junior high school at MTsN 1 Waluran. Pada fase inilah semuanya berubah derastis. Aku yang biasanya rajin, baek (boong kalieee), berubah jadi pemalas, sampai-sampai tiap pagi ortuku pasti marah-marah. Pokoknya wajtu itu yang ada dipikiranku hanya having fun, hang out bareng teman-teman.

Pada masa ini juga aku mulai mengenal lawan jenis, first love, ataupun hanya cinta monyet. Pokoknya seru banget deh. Maklum memang, masa-masa itu merupakan masa puber pertamanya aku, walaupun pada saat itu, aku mulai mengenal yang namanya cinta ketika memasuki tahun ketiga, dan itu emang waktu gila-gilanya Sampai-sampai waktu kelulusan, aku nangis, coz rangking di rapotku turun drastis, walaupun aku termasuk lima lulusan terbaik. Tapi pastinya seru and berharga banget deh.

Senior High School

Sebelumnya gak kebayang dalam hidupku, kalau aku bakal ngelanjutin SMA ke sebuah pondok modern, apalagi tempatnya di daerah Madura yang terkenal dengan udara panasnya. Tapi memang sudah jalannaya seperti itu, mau tidak mau aku jadi ngerasain juga mendekam di lembaga pendidikan asrama tersebut. Ya….Al-Amien Prenduan adalah nama Pondok Modern itu. Lembaga yang sudah menunjukkan berbagai macam hal padaku, mulai dari yang baik sampai pada yang jelek pun.

Begitu banyak kenangan yang tercipta selama aku menempuh pendidikan disana, yang tentunya semuanya aku lalui dengan tidak mudah, banyak tantangan yang merintangi perjalananku. Tapi Alhamdulillah semuanya bisa aku lalui dengan cukup baik, sampai akhirnya aku bisa menyelesaikannya tepat waktu.

Lembaga ini yang telah membelalakan mataku akan realita kehidupan yang ada, walaupun hanya bersifat semu, tapi setidaknya menjadi bekal bagiku ketika keluar ke kehidupan yang lebih real, kehidupan bermasyarakat, bernegara dan beragama.

Di sini aku belajar yang namanya berorganisasi secara praktis, tidak hanya teori-teori saja. Walaupun memang sebelumnya juga aku pernah merasakannya waktu di MTsN dulu, dengan menjadi wakil ketua OSIS. Tapi aku rasa itu semua tidak ada artinya bila dibanding dengan apa yang aku alami di pondok ini, walaupun hanya menjadi bagian pembinaan bahasa. Tapi yang terasa lebih specialnya, karena di pondok ini santrinya cukup banyak, sekitar 1500 orang.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: