MINE

Wacana Orientalisme dalam Lecture II. The Hero as Prophet. Mahomet: Islam, karya Thomas Carlyle

In Artikel on 23 Desember 2013 at 01:17

Apa yang salah dengan tulisan seorang Thomas Carlyle yang berjudul Lecture II. The Hero as Prophet. Mahomet: Islam yang merupakan bagian dari tulisan On Heroes, Hero Worship, and The Heroic in History? Sepintas barangkali tidak ada yang salah, karena dari judulnya saja sudah merepresentasikan bahwa bisa jadi Carlyle ini ingin memuji Mahomet, yang dalam budaya kita, sebagai muslim, biasanya dipanggil Muhammad, sebagai seorang pahlawan. Akan tetapi, alangkah lebih baiknya kita juga meneliti dan menganalisa lebih jauh lagi tentang tulisan ini, apakah memang demikian adanya apa yang ditulisnya itu? Ataukah ada unsur-unsur lain yang Carlyle ingin dituju dan dimaksudkan dengan tulisan itu?

Tidak berlebihan juga memang bila sepintas menyimpulkan bahwa tulisan ini hadir untuk memuji kehebatan Nabi yang terakhir bagi umat muslim ini. Setidaknya hal ini bisa terlihat dari pernyataan Carlyle dalam tulisannya ini yang menyatakan seperti ini:

“We have choosen Mahomet not as the most eminent Prophet: but as the one we are freest to speak of. He is by no means the truest of Prophets; but I do esteem him a true one. (Carlyle, 1840: 27)

 Dari kutipan di atas dapat terlihat bahwa Carlyle mengakui bahwa Mahomet merupakan seorang nabi yang paling benar di antara nabi-nabi yang pernah ada sebelumnya. Bila dia mengakui bahwa Nabi Muhammad adalah yang paling benar, tidak berlebihan bila kita mengatakan dia juga dengan itu mengakui keunggulan Beliau, keunggulan yang membuat Carlyle mengakuinya, dan sekaligus memujinya.

Salah satu hal yang mulai mengganjal dari tulisannya itu ialah mulai terlihat, pada bagian kutipan di atas tadi yang berbunyi, “But as the one we are freest to speak of.” Kutipan ini bisa memunculkan pertanyaan mengapa Carlyle menulis seperti itu? Mengapa ia menganggap bahwa Nabi Muhammad merupakan objek yang paling bebas mereka perbincangkan? Apakah hal ini ada kaitannya dengan latar belakang Carlyle sendiri yang memiliki idiologi dan kepercayaan yang berbeda dengan Muhammad?

Bila melihat fenomena keanehan tersebut, tentunya kita perlu mewaspadai tujuan apa yang dibawa oleh Carlyle dalam tulisannya itu. Bisa jadi apa yang ditulisnya itu merupakan sebuah serangan kepada Nabi Muhammad secara khusus, dan bagi seluruh umat muslim secara umum. Hal ini memang bisa saja terjadi bila melihat background Carlyle sendiri yang merupakan seorang British. Maka bila memang demikian adanya, maka mungkin inilah yang kemudian disebut oleh Edward Said dengan istilah orientalism dalam tulisannya yang juga berjudul Orientalism.

Apa itu orientalism? Kata orientalism berasal dari kata orient yang memiliki arti timur. Sedangkan orientalism berarti paham tentang ketimuran atau dunia timur atau pun segala sesuatu yang berbau timur. Akan tetapi yang dimaksud oleh Said dengan istilah itu ialah mencakup tiga fenomena. Pertama, orientalis adalah orang yang mengajarkan, menulis, dan meneliti Timur, baik orang yang bersangkutan ahli antropologi, sosiologi, sejarah, maupun filologi, baik dari segi umum maupun khusus, dengan mengklaim bahwa dirinya memiliki pengetahuan dan memahami kebutuhan-kebutuhan Timur. Kedua, orientalisme ialah gaya berpikir yang mendasarkan pembedaan ontologis dan epistemologis yang dibuat antara Timur (the orient) dan (hampir selalu) Barat (the occident). Dan ketiga, orientalisme dapat didiskusikan dan dianalisis sebagai institusi yang berbadan hukum untuk menghadapi Timur, berkepentingan membuat pernyataan tentang Timur, membenarkan pandangan-pandangan tentang Timur, mendeskripsikannya, memposisikannya, dan kemudian menguasainya. (Said, 2-3)

Dari uraian di atas, dapat disingkatkan bahwa orientalisme adalah suatu cara yang digunakan oleh Barat, orang-orang Eropa, untuk mendominasi, merestrukturisasi, dan menguasai Timur, dan dalam hal ini termasuk Islam. Dan bila kita merujuk pada pengertian tentang apa itu orientalisme, maka wacana yang ada dalam tulisan Carlyle ini bisa dimasukan pada pengertian yang pertama, yaitu orientalis adalah orang yang mengajarkan, menulis, dan meneliti Timur, baik orang yang bersangkutan ahli antropologi, sosiologi, sejarah, maupun filologi, baik dari segi umum maupun khusus, dengan mengklaim bahwa dirinya memiliki pengetahuan dan memahami kebutuhan-kebutuhan Timur. Dari gagasan inilah muncul tokoh-tokoh orieantalis (pengkaji peradaban ketimuran) yang dengan seiring perjalanan waktu telah berubah menjadi suatu kajian yang bukan hanya mempelajari keilmuan peradaban timur tapi semua yang terkait dengan ketimuran termasuk bagaimana cara menguasai dunia timur (Islam) dan penjajahan.

Kaitannya dengan adanya istilah binary opposition dalam istilah orientalisme Said, yaitu The Orient and the Occident, diwakili oleh Nabi Muhammad sebagai the orient dan Carlyle sendiri sebagai the Occident, yang berusaha mendeskripsikan Timur dengan cara dan pengetahuannya yang berujung pada hegemonisasi dan dominasi terhadap Timur.

Tentu saja untuk mencapai dominasinya, Barat atau Eropa dan Amerika, yang dalam hal ini diwakili oleh Carlyle berusaha dengan berbagai cara yang mungkin dapat dilakukan, salah satunya melalui tulisan tentang Muhammad ini, yang juga ternyata ujung-ujungnya menjelek-jelekan Nabi Muhammad sebagai perwakilan dunia Timur dan Islah secara khusus. Berikut ini kutipan dari tulisan Carlyle yang menunjukan hal tersebut:

“Our current hypotesis about Mahomet, that he was a scheming Impostor, a Falsehood incarnate, that his religion isa mere mass of quackery and fatuity, begins really to be now untenable to any one. ” (Carlyle, 1840: 27)

 Kutipan di atas menunjukan sebuah penghinaan dan pelecehan yang dilakukan Carlyle dalam tulisannya tersebut, yang padahal sebelumnya ia memuji Muhammad. Maka ini bisa menjadi alasan mengapa karyanya ini merupakan sebuah wacana yang disebut oleh Said sebagai wacana orientalisme.

Dalam orientalisme juga, seperti yang dijelaskan  Syuropati dan Agustina (2012: 132-133), bahwa Said dengan meminjam pendekatan Foucault, membongkar cara pandang dunia Barat atas dunia Timur selama ini yang selalu dalam upaya penguasaan dan penindasan. Penguasaan dunia Barat terhadap Timur terlihat dari cara pandang yang menganggap Timur sebagai “yang lain” baik itu karena bahasa, budaya, tradisi dan segala hal yang berkaitan dengan dunia Timur. Lebih jauh lagi, pasca terbitnya buku Orientalism Edward Said, kecurigaan negatif terhadap karya-karya sarjana Barat yang meneliti atau menulis dunia Timur makin menguat. Para peneliti barat yang mengkaji Timur kini dicurigai membawa agenda terselubung yang akan merugikan dunia Timur. Sehingga peneliti Barat yang ingin meneliti dan menulis tentang dunia Timur, terutama islam harus diperiksa dulu niatnya, apakah untuk menjelek-jelekan nama Islam atau penaklukan kolonialisme.

Dari beberapa keterangan di atas, tidak lah berlebihan apa bila kita mencurigai tulisan Carlyle ini, karena bisa saja memang memuat wacana orientalisme seperti yang Said ungkapkan itu, dan tentunya hal ini cukup kuat dengan terdapatnya bukti-bukti ada dalam teksnya itu. Seperti halnya juga apa yang ada dalam kutipan berikut ini:

“On the whole, we will repeat that this religion of Mahomet’s is a kind of Christianity; has a genuine element of what is spiritually highest looking through it, not to be hidden by all its imperfections.” (Carlyle, 1840: 45)

 Pada akhirnya, segala sesuatu tidaklah lahir atas suatu kekosongan, pastinya ada niatan dan maksud yang hendak dicapai oleh seseorang, termasuk apa yang ditulis dengan pernyataan-pernyataanya, yang ada di dalamnya, oleh Carlyle ini. Dan Orientalisme said juga menyadarkan kita bahwa kita harus membaca kritis suatu karya orang Barat tentang dunia Timur.

Apakah itu?

In Trash on 7 Desember 2013 at 00:41

Yang menyelinap merabai serambi hatimu
Duduk lalu berbaring
Pada dipan-dipan hayalan
Seraya Tersenyum melumat harimu

Apakah itu?
Yang merenggut ceriamu
Hadiahkan airmata dan duka lara
Serta kegilaan yang mencabik-cabik draf sejarah

Apakah itu?
Yang memompa gelombang asa
Meletakan matahari tanpa malu
Di punggung tegakmu

Apakah itu?

Korupsi? Bunuh saja!

In Artikel on 30 November 2013 at 00:26

KARIKATUR KorupsiJika Zhu Rong Zhi, mantan Perdana Menteri China pada 1998 mengatakan: “Saya akan sediakan 100 buah peti mati. 99 untuk para koruptor dan 1 lagi untuk saya, apabila saya melakukan hal yang sama.” Dan memang kemudian dia membuktikan kata-katanya dengan menembak mati/ menyuntik mati para koruptor. Lain halnya dengan para koruptor di negeri ini yang masih bisa menghirup udara pagi, walaupun sebesar apapun uang rakyat yang sudah dicurinya. Mungkin diantara kita ada yang masih ingat bagaimana Anas Urbaningrum, mantan Ketua Umum sebuah partai yang berkuasa, pernah mengatakan kata-kata yang menggemparkan negeri ini, yaitu “Kalau ada satu rupiah saja Anas korupsi Wisma Atlet dan Hambalang, gantung Anas di Monas!”

Jika ditilik lebih dalam lagi, kata-kata tersebut mengisyaratkan lemahnya hukuman yang selama ini didapat oleh para koruptor, sehingga tidak menghadirkan efek jera dan korupsi malah semakin menjadi-jadi. Sehingga dengan kata lain, hukuman semacam ini, atau bentuk lainnya hukuman mati, sudah selayaknya diterapkan di negeri rumahnya para koruptor ini.

Setidaknya ada tiga alasan mengapa seorang koruptor harus dihukum mati. Pertama, agar tidak ada lagi tantangan sebagai akibat dari pelecehan terhadap penegak hukum di negeri ini. Kedua, sebagai sebuah pembuktian terhadap publik bahwa penegak hukum bisa bertindak tegas dan tidak pandang bulu. Ketiga, sebagai contoh bagi yang lain, sehingga menimbulkan efek jera.

Pertama, jika seorang koruptor diberi hukuman mati, maka tidak akan ada lagi tantangan sebagai akibat dari pelecehan terhadap para penegak hukum di negeri ini. Tantangan karena selama ini semangat dan konsistensi mereka (para penegak hukum-red) sering mengalami pasang surut. Sehingga dalam kenyataannya masih banyak kasus-kasus korupsi besar yang masih belum terungkap, sebut saja kasus bailout Bank Century yang masih terkatung-katung hingga saat ini. Sedangkan yang dimaksud pelecehan ialah karena apa yang sudah dilakukan oleh para penegak hukum dalam memberantas korupsi selama ini bukanlah hal yang besar. Sehingga dengan pernyataannya itu, Anas melecehkan kemampuan para penegak hukum yang sering tebang pilih.

Kedua, jika seorang koruptor kelas kakap terbukti bersalah dan diberi hukuman mati, maka ini akan menjadi sebuah pembuktian terhadap publik bahwa para penegak hukum di negeri ini dapat bertindak tegas dan tidak pandang bulu. Sehingga tingkat kepercayaan publik terhadap kinerja mereka dalam memberantas korupsi akan kembali meningkat.  Hal ini sesuai dengan apa yang diungkapkan Lembaga survei Jaringan Suara Indonesia (JSI) bahwa tingkat kepuasan publik terhadap kinerja lembaga hukum di Indonesia pada tahun 2011 lalu, hanya 31.1 persen yang menyatakan penegakan hukum di Indonesia baik, 39.7 persen menyatakan buruk, 19.9 persen tidak baik maupun tidak buruk, dan 9.2 persen tidak tahu (Tempo Interaktif, 2 Nopember 2011).

Ketiga, tidak dapat dipungkiri, maraknya kasus korupsi yang terjadi disebabkan oleh  hukuman yang tidak sebanding. Akibatnya, hal tersebut tidak menimbulkan efek jera bagi para pelakunya. Oleh karena itu, dengan dipilihnya hukuman mati sebagai hukuman yang pantas bagi para koruptor, hal ini bisa menjadi sebuah warning bagi para koruptor yang masih berkeliaran, agar mereka bisa menyadari kesalahannya dan segera bertobat. Bagi para narapidana korupsi, hal ini bisa menimbulkan efek jera. Sehingga mereka tidak mengulangi hal yang sama. Sedangkan bagi para pejabat yang baru mempunyai niat untuk melakukannya, segera urungkan niat jeleknya itu dan kembalilah ke jalan yang benar.

Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa hukuman mati bisa menjadi sebuah pilihan yang tepat dalam memberantas korupsi di negeri ini, sehingga tidak ada lagi pelecehan dan tantangan terhadap para penegak hukum, baik KPK, kepolisian dan Mahkaman Agung, seperti halnya yang dilakukan Anas melalui kata-katanya itu. Dalam hal ini para penegak hukum harus meresponnya dengan cara bekerja lebih maksimal lagi dalam mengentaskan kasus korupsi dengan tanpa pandang bulu. Sehingga pada akhirnya hukuman mati ini dapat membuat efek jera dan juga membunuh mata rantai korupsi di negeri ini.